BREAKINGNEWS.CO.ID - Dalam memperingati hari air sedunia yang jatuh setiap tanggal 22 Maret, sejumlah pihak menyuarakan betapa pentingnya air bagi keberlangsungan hidup bagi kehidupan.

Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Nusa Tenggaa Timur (NTT), Umbu Wulang mengatakan jika air merupakan kehidupan. Menurutnya, pemerintah yang tidak mampu menyediakan air atau menjaga ketersedian air adalah pemerintahan yang gagal.

"Nusa Tenggara Timur selalu dinobatkan menjadi daerah yang kering. Tahun ke tahun NTT selalu dihantui gagal tanam akibat dari perubahan iklim dan kerusakan kantong-kantong air akibat aktivitas manusia. Cadangan Air Tanah (CAT) semakin berkurang dengan begitu meningkatnya aktivitas pertambangan dan sumur bor yang tidak melakukan tinjauan kelayakan daya dukung dan daya tampung lingkungan," kata Umbu di Jakarta, Jum'at (22/3/2019).

"Selain itu, juga terjadi akibat perubahan iklim dan kurangnya pemahaman. Adaptasi perubahan iklim menjadi petaka bagi petani karena tidak dimodali pengetahuan kalender tanam dan adaptasi perubahan iklim. Pada tahun  2016, KLHK dari hasil risetnya menyampaikan bahwa dari 22 kabupaten/kota di NTT, hanya Kota Kupang dan Kabupaten Malaka yang tidak mengalami kekeringan.

Bersamaan dengan krisis tersebut, lanjut Umbu,  tidak dapat disangkal kerusakan ekosistem hutan sebagai fungsi penyangga ekositem makin hari makin mengkhawatirkan. Bagaimana tidak, terdapat sembilan perusahaan tambang yang arealnya terindikasi berada pada kawasan hutan konservasi dengan luas lebih kurang 16.457,88 Ha, dan terdapat 77 perusahaan tambang yang arealnya terindikasi berada pada kawasan hutan lindung dengan luas lebih kurang 55.949,51 Ha. Alih fungsi kawasan hutan menjadi kawasan perkebunan monokultur tebu terjadi di Sumba Timur.

"Selain kerusakan ekosistem hutan, juga terjadi kerusakan daerah aliran sungai (DAS) terbesar di Timor Barat yakni DAS Benanain yang juga sungai terpanjang di Timor Barat. 30 persen wilayahnya telah menjadi wilayah pertambangan. Padahal, DAS Benanain adalah daerah aliran sungai yang secara nasional mendapatkan prioritas untuk diperbaiki karena bagian hilirnya terus-menerus dilanda banjir dengan kecenderungan yang meningkat belakangan ini.

"Tetapi, tampaknya upaya ini akan semakin sulit karena di wilayah DAS Benanain terdapat 72 IUP yang mencakup wilayah Kabupaten Belu dan Kabupaten Timor Tengah Utara," ungkapnya.

"Daerah aliran sungai lain yang juga berpotensi terancam banjir adalah DAS Noemuke, yang memang hanya terdapat 4 wilayah IUP, tetapi mencakup 25 persen dari luas wilayah DAS Noemuke. Wilayah IUP yang terhampar di DAS Noemuke berada pada bagian hulu dan tengah. Curah hujan yang naik pada November hingga Mei dan intensitas matahari sepanjang tahun membuat tanah yang sudah terbuka mengalami pelapukan dan tererosi dengan cepat.

"Hal ini berkontribusi pada peningkatan sedimen di daerah hilir. Pada akhirnya, peningkatan sedimen pada sungai dapat mengakibatkan risiko banjir di bagian hilir karena zona aliran sudah tertimbun oleh material sedimen," terang Umbu.

"Akumulasi krisis di atas menjadi semakin rentan apa bila pemerintah tidak mementingkan daya dukung dan daya tampung lingkungan dalam rencana pembangunan," imbuhnya.

Dalam momen hari air sedunia ini, Walhi NTT kembali mengingatkan krisis yang terjadi di Nusa Tenggara Timur harus menjadi kekhawatiran bersama. Terutama pemerintah sebagai pengambil kebijakan untuk tegas terhadap seluruh pelanggaran lingkungan yang telah terjadi. Bila perlu melakukan audit lingkungan atas seluruh aktivitas pertambangan dan aktivitas lain yang telah merusak ekosistem penyimpan air.