JAKARTA - Walaupun harga daging termasuk normal mendekati ramadan, namun harga ternak sapi di pasaran hewan Situbondo mengalami penurunan. Tidak tanggung-tanggung, penurunan harga sapi ini dapat mencapai 20 persen. Tidak heran, bila saat ini banyak pedagang yang kelabakan. Bahkan, salah satunya tidak segan merugi apabila sapi dagangannya diperkirakan tidak laku terjual di pasaran. "Bahkan, kalau kondisi pasaran begini rugi Rp 500 ribu pun mending dilepas. Karena kalau dibawa pulang, jelas modal tambah bengkak. Dari biaya transportasi, biaya pakan dan perawatan selama di kandang, dan lainnya. Padahal belum ada jaminan harga pasaran mendatang akan ada kenaikan," kata Syaiful Bahri, seorang pedagang sapi asal Desa Tenggir, Kecamatan Panji, Sabtu (12/5/2018).

Di pasar hewan Desa Sumberkolak Kecamatan Panarukan, harga sapi sepanjang hari pasaran Sabtu (12/5/2018) mengalami anjlok. Termasuk juga harga sapi pedaging (layak potong) juga ikut-ikutan merosot. Terlebih harga sapi indukan produktif serta harga pedet, harganya semakin tidak tertolong. "Harga sapi yang dulunya Rp 10 juta, sekarang ini bisa merosot sampai Rp 7,5 sampai Rp 8 juta. Pedet yang dulu harga Rp 7 juta, sekarang bisa Rp 4,5 sampai Rp 5 juta," sambung Syaiful.

Anjloknya harga ternak sapi ini terjadi diduga dikarenakan daya beli sapi konsumen yang mengalami penurunan. Bahkan sejak beberapa pekan terakhir, pembeli sapi di pasaran cenderung sepi. Keadaan ini benar-benar membuat banyak pedagang mengeluh. Mereka meminta supaya pemerintah turun tangan untuk menstabilkan harga sapi di pasaran.

"Perkiraan harga normal lagi ini masih sekitar setelah idhul adha nanti. Kalau idhul fitri biasanya ada kenaikan, tapi belum normal. Ini masa paceklik bagi pedagang sapi. Makanya, pemerintah harus turun tangan mengatasi anjloknya harga sapi ini," desak Achmadi Asnan, pedagang sapi lainnya.