BREAKINGNEWS.CO.ID- Ketua DPR RI, Bambang Soesatyo mendorong Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk mencari solusi guna meningkatkan harga kelapa sawit baik harga beli Tandan Buah Segar (TBS) ataupun minyak kelapa sawit.
 
Hal tersebut dikatakan Bambang menyikapi anjloknya harga beli TBS kelapa sawit yang mencapai Rp 600-880/kg. Harga tersebut menyebabkan pekerjaan panen dan perawatan kebun sawit berkurang hingga berhenti dan industri kelapa sawit berpotensi melakukan efisiensi pengurangan tenaga kerja akibat rendahnya harga kelapa sawit dan stok minyak yang melimpah.  
 
"Melakukan antisipasi harga minyak sawit yang turun akibat dampak perang dagang Amerika Serikat dan China serta bea masuk ekspor ke India yang naik hingga 57 persen," ujar Bambang kepada wartawan di Jakarta, Selasa (27/11/2018). 
 
Bambang pun mendorong Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kementerian ESDM) untuk terus memberikan bimbingan kepada perusahaan dan petani kelapa sawit mengenai tata cara pengolahan kelapa sawit yang sesuai standar. 
 
"Serta memastikan kualitas minyak sawit Indonesia sesuai dengan standar internasional dan mampu bersaing dengan minyak sawit produksi negara lain," jelasnya. 
 
Selanjutnya Bambang mendorong Kemendag untuk melakukan promosi baik minyak mentah ataupun olahan kelapa sawit produksi Indonesia, serta meningkatkan kerja sama perdagangan dengan negara-negara lain untuk menyerap minyak sawit produksi Indonesia.
 
Bambang menambahkan, pihaknya mendorong Kementerian ESDM untuk segera mengefektifkan pelaksanaan program Biodiesel 20% atau B-20 guna memaksimalkan penyerapan minyak sawit dalam negeri yang saat ini memiliki stok melimpah.
 
Diberitakan sebelumnya, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menilai ada risiko lay-off atau pemutusan hubungan kerja (PHK) yang menghantui industri kelapa sawit RI saat ini. Hal ini disebabkan oleh jatuhnya harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di pasar internasional sepanjang tahun ini.
 
Ketua bidang Ketenagakerjaan Gapki, Sumarjono Saragih mengungkapkan fakta yang terjadi di lapangan di sentra-sentra produksi sawit saat ini, di mana pekerjaan panen dan perawatan kebun sawit sudah berkurang, bahkan ada yang berhenti.
 
"Stok CPO penuh di tangki-tangki CPO karena tidak ada pembeli dan ditolak di pasar global," kata Sumarjono, Rabu (21/11/2018).
 
Produksi yang meningkat menjelang akhir tahun, permintaan pasar ekspor yang diramal akan tetap lesu, serta belum optimalnya penerapan mandatori B20 untuk menggenjot konsumsi domestik menjadi beberapa sentimen negatif dari dalam negeri yang menyebabkan harga CPO di pasar internasional terpuruk.