BREAKINGNEWS.CO.ID- Ketua DPR RI, Bambang Soesatyo mendorong Komisi VI DPR meminta Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk menjelaskan harga jagung yang terus naik sekitar Rp 500 per kg setiap bulan. 
 
Hal tersebut dikatakan Bambang menyikapi kenaikan harga jagung di sejumlah daerah, antara lain Banten, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Selatan umumnya telah lebih dari Rp 4.000 per kg pada Juli 2018. Kini lebih dari Rp 5.000 kg yang berimbas terhadap kenaikan harga pakan ternak. "Peraturan Menteri Perdagangan No. 58 Tahun 2018, harga acuan jagung di tingkat pabrik ditetapkan Rp 4.000 per kg," ujar Bambang di Jakarta, Selasa (25/9/2018). 
 
Bambang juga mendorong Komisi IV dan Komisi VI DPR meminta Kementerian Pertanian (Kementan), Kemendag dan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) untuk menyamakan data mengenai stok jagung dan kebutuhan agar tidak terjadi salah persepsi dengan para pedagang dan peternak. 
 
Selanjutnya Bambang mendorong Komisi VI DPR meminta Kemenperin untuk menyediakan persediaan kebutuhan jagung dalam negeri serta berkoordinasi dengan Kementan dalam menentukan kebutuhan jagung untuk produksi pakan ternak.
 
Sebelummya diberitakan, peternak meminta pasokan jagung diprioritaskan untuk kepentingan pemenuhan kebutuhan dalam negeri daripada ekspor. Alasannya, menurut Presiden Peternak Layer Nasional, Ki Musbar Mesdi, para peternak unggas dan produsen pakan ternak masih terjerat pada harga jagung yang relatif tinggi. 

Musbar juga mengatakan meski terjadi surplus panen, namun harga jagung ditingkat peternak dan produsen masih tinggi. Disebutkan, tahun 2018 ini pemerintah menargetkan produksi jagung sebanyak 33 juta ton, naik sekitar 10 juta ton pada tahun 2017. Sementara kebutuhan jagung untuk peternak dan pakan ternak sekitar 9 juta ton per tahun.

"Artinya, kalau kita hanya butuh sembilan juta ton, sementara produksi nasional 23 juta ton (tahun 2017), harusnya harga jagung sekitar Rp 3 ribuan, tapi ini tidak pernah mencapai angka segitu, di atas Rp 3.700 sampai Rp 4.000 lebih," kata dia, Jumat (14/9). 

Di sisi lain dia menegaskan bahwa keberadaan jagung sangat memberikan efek terhadap keberlangsungan sektor peternakan. "Kelangsungan hidup 1,8 juta peternak unggas nasional dipertaruhkan disini. Kalau tidak ada jagung, ayam tidak bertelor, suplai telor ke pasar kurang," jelas Musbar.