BREAKINGNEWS.CO.ID -  Masih terbukanya indikasi hasil positif dari negosiasi perdagangan antara AS dan China memberi dampak positif ke lantai bursa.

Pada penutupan perdagangan Senin (19/8/2019),  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat membuat penguatan tipis  10,05 poin  karena mengantisipasi negosiasi dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang masih memberi harapan bagus.

IHSG ditutup menguat 10,05 poin atau 0,16 persen ke posisi 6.296,71 poin. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 bergerak naik 3,83 poin atau 0,39 persen menjadi 984,12.

Andreas Yasakasih  dari PT Foster Asset Management   mengatakan,  IHSG menguat seiring munculnya harapan positif investor terhadap kelanjutan negosiasi dagang antara AS dan China. "Pasar menanti negosiasi dagang AS-China. Adanya harapan pertemuan berlangsung dengan baik memicu sebagian investor mengambil posisi beli," katanya.

Kendati demikian, lanjut dia, penguatan IHSG relatif tertahan pada awal pekan ini (19/8), dikarenakan investor juga hati-hati mengambil posisi. Pasalnya, sentimen mengenai perang dagang relatif cenderung mudah berubah.

Sedangkan Direktur Indosurya Bersinar Sekuritas, William Surya Wijaya menambahkan, secara teknikal IHSG saat ini masih terlihat mencari posisi support sebagian acuan untuk membuat gerakan naik yang solid.

 

"Level support masih terlihat cukup kuat, jika terjadi koreksi dapat dijadikan peluang untuk melakukan akumulasi pembelian, mengingat dalam jangka panjang IHSG masih berada dalam tren kenaikan," katanya.

Penutupan IHSG diiringi aksi jual saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah jual asing bersih atau net foreign sell sebesar Rp104,54 miliar.

Rupiah Stagnan

Pada bagian lain, mata uang rupiah tercatat stagnan di level Rp14.235 per dolar AS "Pada perdagangan tadi pagi rupiah menguat, namun pada sore ini apresiasi rupiah cenderung tergerus hingga akhirnya menyentuh level perdagangan hari sebelumnya (Jumat, 16/8)," ujar Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra.

Menurut dia, pergerakan rupiah yang mendatar itu seiring antisipasi investor terhadap pembahasan Huawei Technologies. Presiden AS Donald Trump dan Presiden Cina Xi Jinping diperkirakan akan kembali membahas Huawei. "Lisensi Huawei untuk memproduksi produk baru masih menjadi masalah, jika belum ada titik temu, dikhawatirkan mempengaruhi negosiasi dagangan AS-China," katanya.

Ia mengharapkan tim negosiasi dagang Amerika Serikat dan China yang akan melakukan komunikasi secara intensif dapat menghasilkan sesuatu yang positif bagi pasar. "Dikabarkan dialog itu dilakukan pada awal September, diharapkan berjalan lancar," katanya.