JAKARTA - Orgasme memang tidak hanya sekedar bisa dicapai melalui hubungan seksual saja. Orgasme atau kenikmatan seksual tercapai apabila seseorang menerima rangsangan seksual yang cukup, yang pada akhirnya mempengaruhi pusat seks di otak. Rangsangan seksual yang diterima mungkin melalui cara apa pun. Orgasme yaitu puncak reaksi pada rangsangan seksual yang diterima, baik rangsangan yang bersifat fisik ataupun psikis. Rangsangan fisik dapat diterima oleh bagian tubuh mana saja yang peka rangsangan

Banyak bagian tubuh pria dan wanita yang peka rangsangan seksual, mulai dari sekitar mata, bibir, pipi, leher, payudara, punggung, dinding perut, paha bagian dalam, kelamin, sekitar dubur, dan bokong. Rangsangan pada bagian tubuh peka rangsangan itu dapat menimbulkan reaksi seksual, bahkan sampai orgasme.

Karena itu sebagian orang dapat mencapai orgasme hanya dengan melakukan ciuman bibir yang dalam. Sebagian wanita dapat mencapai orgasme hanya dengan menerima rangsangan pada payudaranya. Bahkan ada wanita yang dapat mencapai orgasme hanya dengan mengkhayalkan hubungan seksual yang pernah dilakukan sebelumnya.

Jangan lupa, orgasme dapat dicapai dalam keadaan tidur, tanpa disengaja menerima rangsangan seksual. Jadi untuk mencapai orgasme, rangsangan yang diterima tidak mesti pada bagian kelamin. Yang diperlukan hanyalah rangsangan yang cukup, baik fisik maupun psikis, sehingga menimbulkan reaksi seksual dengan orgasme sebagai puncaknya.

Tetapi di pihak lain tidak sedikit, khususnya wanita, yang gagal mencapai orgasme karena sebab tertentu. Apa pun penyebabnya, baik fisik maupun psikis, yang pasti reaksi seksual yang terjadi terhadap rangsangan seksual tidak sampai mencapai puncaknya. Mungkin juga karena rangsangan seksual tidak cukup diterima, sehingga reaksi seksualnya tidak dapat mencapai puncak.

Hubungan seksual melalui dubur (anal sex) lazim dilakukan oleh pasangan homoseksual, di samping hubungan seksual melalui mulut (oral sex). Sebagian kecil pasangan suami isteri juga melakukan hubungan seksual melalui dubur sebagai bentuk variasi mereka.

Hubungan seksual melalui dubur dapat juga menimbulkan orgasme bagi pihak wanita karena dua hal. Pertama, karena dubur memang kaya dengan ujung syaraf perasa. Kedua, tekanan melalui dubur secara tidak langsung dapat menekan bagian vagina, terutama G spot.

Tetapi sangat perlu diingat bahwa dubur memang dibentuk bukan untuk fungsi hubungan seksual dan jalan lahir, sehingga tidak sama dengan vagina. Karena itu terdapat beberapa hambatan kalau hubungan seksual dilakukan melalui dubur.


Pertama, lapisan epitel dubur tipis sehingga mudah koyak. Kedua, pada dubur tidak terjadi perlendiran seperti pada vagina ketika menerima rangsangan seksual. Ketiga, dubur tidak mengalami reaksi perubahan ukuran ketika menerima rangsangan seksual. Maka hubungan seksual melalui dubur sebenarnya cukup sulit dilakukan. Paling tidak, jauh lebih sulit daripada hubungan seksual melalui vagina.

Hambatan itu menimbulkan keluhan pada mereka yang melakukan hubungan seksual melalui dubur. Keluhan itu muncul dari rasa sakit dan mudah mengalami luka lecet, yang kemudian dapat menimbulkan infeksi.
Memang, untuk menghindari rasa sakit dan luka lecet, dapat digunakan bahan pelicin sebelum melakukan hubungan seksual melalui dubur. Kesulitan dan keluhan itu tentu merupakan alasan kuat mengapa hubungan seksual melalui dubur tidak lazim dilakukan di kalangan suami isteri. Jauh lebih tidak lazim daripada hubungan seksual melalui mulut.

Di samping karena kesulitan dan keluhan itu, hubungan seksual melalui dubur juga terkesan tidak erotis dan tidak estetis, karena dubur identik dengan sesuatu yang kotor dan bau. Sedang sesuatu yang erotis, juga estetis, pada umumnya diidentikkan dengan sesuatu yang indah, bersih, harum. Jangan sampai keluhan yang mungkin muncul kemudian merupakan trauma yang menghambat kehidupan seksual selanjutnya. Andaikata sang isteri bersedia melakukannya, masih perlu dipikirkan akibat yang mungkin terjadi.

Dalam melakukan hubungan seksual, hendaknya selalu berpegang pada prinsip bahwa hubungan seksual harus dilakukan untuk kepentingan bersama suami isteri. Jangan sampai isteri hanya merasa sebagai objek pemuas suami atau malah dijadikan objek pemuas oleh suami. Jangan sampai isteri selalu menuruti kemauan suami, padahal dirinya tidak dapat menikmati kehidupan seksual.

Karena itu supaya variasi apa pun yang dilakukan dalam aktivitas dan hubungan seksual, benar-benar dilakukan atas dasar kemauan dan kepuasan bersama. Artinya, jangan sampai salah satu pihak tidak dapat menikmati kehidupan seksualnya atau malah mengalami akibat buruk hanya karena menuruti kehendak pasangannya.