BREAKINGNEWS.CO.ID – Pembalap Mercedes AMG Petronas, Lewis Hamilton merasa sangat bangga dapat memanimalisir kesalahan sendiri di lintasan. Pernyataan tersebut dilontarkan pembalap berkebangsaan Inggris ini tak lain berkaca dari insiden yang dialami rival terberatnya di ajang Formula 1, Sebastian Vettel yang sempat menabrakan mobil Ferrari-nya dalam sesi latihan GP Singapura pada Sabtu (15/9/2018).

Kemenangan GP Singapura yang ditorehkan Hamilton membuatnya kini semakin melenggang di klasemen sementara dengan keunggulan 40 poin atas Vettel. Hasil tersebut ia raih usai penampilan brilian saat kualifikasi, sedangkan Vettel dan Ferrari yang awalnya diunggulkan mengalami kecelakaan pada sesi latihan.

"Saya tidak melihatnya sebagai keberuntungan," ucap Hamilton. "Ketika Vettel menabrak dinding yang membuat mobilnya rusak dan membuat dia kehilangan waktu di trek, itu bukan berarti kami mendapat keberuntungan. Saya sangat bangga tidak menempatkan diri saya dalam situasi seperti itu.

"Saya tahu tim menaruh kepercayaan mereka pada saya, sama seperti Ferrari dengan Vettel. Jadi ada banyak tekanan di pundak kami sebagai pembalap. Cukup kesalahan kecil dari kami bisa membawa dampak yang lebih besar untuk mereka,” ia mengatakan, dikutip Motorsport.

"Sebagai tim kami tidak ingin membuang waktu memikirkan apa yang sedang tim lain lakukan. Atau memikirkan apakah mereka sedang tertekan, apakah mereka sedang senang atau muram. Kami tidak bisa mengubah apapun soal itu. Yang bisa kami lakukan adalah berusaha sebaik mungkin sepanjang minggu," jelasnya.

Meski sekilas tampak besar dapat mempertahaan gelar juara dunia F1 2018, Hamilton menyadari keunggulan yang ia miliki sekarang ini belum cukup aman. Oleh sebab itu, ia masih menargetkan kemenangan di ronde-ronde berikutnya. "Saya belum pada posisi di mana saya bisa menghadapi balapan dengan pikiran 'Oke, saya hanya perlu melakukan ini di sana, dan ini di sana'. Yang ada dalam pikiran saya adalah selalu mencoba menang di setiap balapan, sesederhana itu," tuturnya.

"Saya fokus datang untuk menang. Saya ingin menang, itu target saya. Saya tidak hanya melihat perolehan poin. Keunggulan 40 poin memang bagus, tapi pertarungan belum selesai sampai secara matematis saya benar-benar tidak mungkin dikalahkan."