BREAKINGNEWS.CO.ID - Menteri Pariwisata Arief Yahya dijadwalkan menjadi pembicara dalam Tourism Forum 1st Pacific Exposition. Kegiatan ini akan dilangsungkan di Skycity Auckland, Selandia Baru. Tepatnya, pada 11 Juli 2019. Lantas apa yang akan disampaikan Menpar Arief Yahya?

Dalam forum tingkat dunia ini, Menpar Arief Yahya akan menyampaikan sejumlah capaian. Sejumlah keberhasilan sektor pariwisata Indonesia. Termasuk bagaimana pariwisata bertransformasi menjadi core economy bangsa.

Hal tersebut dijelaskan Staf Khusus Menpar bidang Media dan Komunikasi Don Kardono. Dijelaskan Don, capaian yang sudah dihasilkan sektor pariwisata sangat membanggakan.

“Di bawah kepemimpinan Bapak Presiden Joko Widodo, sektor pariwisata Indonesia melesat sangat cepat. Menjadi 3 besar penyumbang devisa buat negara. Bahkan, sedang berproses menjadi nomor satu penyumbang devisa. Capaian ini tidak sembarangan. Dan keberhasilan pariwisata ini akan kita bawa ke New Zealand,” papar Don, Jumat (5/7/2019).

Menurutnya, capaian sukses ini membuat sektor pariwisata menjadi leading sector buat Indonesia. Hal tersebut ditetapkan langsung Presiden Jokowi.

“Potensi pariwisata digali dengan luar biasa oleh Presiden. Bahkan, ditetapkan sebagai leading sector. Kini pariwisata mendapat dukungan penuh, dan kepercayaan itu dibayar dengan baik oleh Menpar Arief Yahya,” kata Don lagi.

Selain hal-hal di atas, Menpar Arief Yahya juga akan menyampaikan kesuksesan brand Wonderful Indonesia. Brand yang awalnya tidak memiliki peringkat, kini melejit hingga posisi 42.

“Strategi penetrasi brand Wonderful Indonesia sangat sukses. Lebih baik jika dibandingkan dengan Thailand dan Malaysia. Namun kita harus akui brand kita masih di bawah Singapura. Ini tantangan yang harus kita jawab,” paparnya.

Indikasi keberhasilan itu, bukan klaim sepihak tetapi berdasarkan sejumlah penilaian. Seperti indikasi National Tourism Organization (NTO) yang fokus pada Digital Demand (D2), termasuk juga total pencarian dari wisatawan mancanegara di internet.

Menpar juga rencananya akan membahas mengenai ASEAN sebagai single destinasi. Ada beberapa hal yang mendukung terciptanya gagasan ini. Seperti kebijakan Visa Free utuk sesama ASEAN Travel.

“Hal lainnya adalah konektivitas. Untuk konektivitas udara kita punya ASEAN Air Services Agreement. Sedangkan untuk jalur laut, kita memiliki Cabotage Dispensation. Kita juga menerapkan joint marketing dan promosi di bawah ASEAN Tourism Forum,” papar Menteri lulusan Telematika di University of Surrey itu.

Yang kemudian menjadi pertanyaan, bagaimana dengan Pasifik? Apakah mereka melakukan hal yang sama?

“Kita hanya memberi gambaran jika pariwisata adalah sektor yang sangat menguntungkan buat negara. Namun juga bisa dilakukan secara global. Negara-negara Pasifik juga bisa melakukan itu. Pariwisata Indonesia bisa menjadi contoh. Apalagi sebagian dari wilayah Indonesia adalah Pasifik,” paparnya.