BANTAENG - Mengenai persoalan usia pernikahan dinnilai sudah sepatutnya untuk segera dirubah. Hal tersebut diungkapkan langsung oleh Hakim Konstitusi Maria Farida Indarti. Menurutnya, Mahkamah Konstitusi (MK) harus bisa mengambil inisiatif karena DPR dinilai lambat dalam melakukan legislatif review. Namun pendapatnya tersebut kalah melawan 8 hakim konstitusi lainnya.

"Terkait persoalan usia perkawinan sudah waktunya diperlukan perubahan hukum segera yaitu melalui Putusan Mahkamah sebagai suatu bentuk hukum melalui sarana rekayasa sosial (law as a tool of social engineering) yang dalam perkara a quo akan memberikan dampak pada perubahan berupa penyesuaian dalam pelaksanaan UU Perkawinan yang juga akan berdampak pada upaya perubahan budaya dan tradisi pernikahan anak sebagaimana yang selama ini masih berlaku dalam masyarakat," katanya.

Hal tersebut tertuang dalam dissenting opinion Nomor 30-74/PUU-XII/2014 yang dikutip pada Minggu (15/4/2018). Adapun putusan tersebut diketok atas permohonan dari sejumlah kelompok masyarakat yang melihat mirisnya fakta banyaknya perkawinan dini di tengah-tengah masyarakat.

Menurutnya, perkawinan anak dibawah umur tersebut telah menimbulkan ketidakpastian hukum dan melanggar hak-hak anak. Ia juga menilai perkawinan anak dapat membahayakan kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak dan menempatkan anak dalam situasi rawan kekerasan dan diskriminasi. "Perkawinan membutuhkan kesiapan fisik, psikis, sosial, ekonomi, intelektual, budaya, dan spiritual," cetus Maria Farida.

Maria Farida mengatakan jika cara membaca batas usia pernikahan juga harus satu nafas dengan pasal sebelumnya. Yakni syarat perkawinan didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai dan untuk melangsungkan perkawinan seseorang yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapat izin dari kedua orangtua. "Perkawinan anak tidak dapat memenuhi syarat perkawinan yang diatur dalam Pasal 6, yaitu adanya kemauan bebas dari calon mempelai oleh karena mereka belum dewasa," kata guru besar Universitas Indonesia (UI) itu.

Seperti diberitakan sebelumnya, rencana pernikahan anak dibawah umur kembali terjadi di Bantaeng, Sulawesi Selatan. Adapun, calon pengantin pria masih berusia 15 tahun, sedangkan calon pengantin wanita berusia 14 tahun. Penghulu yang akan menikahkan mereka, Syarif Hidayat , sejatinya tidak setuju dengan pernikahan itu. Tapi, Pengadilan Agama (PA) Bantaeng memutuskan lain. "Secara pribadi, saya menolak yang namanya pernikahan dini. Tapi ini juga berdasarkan aturan. Kita hanya bisa memberikan nasihat agar mereka baik-baik saja setelah menikah," ujar Syarif.