BREAKINGNEWS.CO.ID-  Perusahaan asuransi Jasa Raharja melihat  Era Revolusi Industri 4.0  lebih  sebagai peluang, bukan ancaman. Sebagai sebuah peluang  diperlukan strategi  adaptif terhadap digitalisasi dalam berbagai aspek, seperti pelayanan kepada masyarakat, transaksi keuangan serta pengelolaan Human Capital.

Hal tersebut dinyatakan  Direktur SDM dan Umum Jasa Raharja, Dewi Aryani Suzana  saat berbicarakepada media di Jakarta, Rabu (24/7/2019).

“Guna mewujudkan tujuan dan target perusahaan dengan karakteristik pegawai yang berlatar belakang sosial dan budaya yang beragam, dibutuhkan strategi dan langkah yang tepat agar setiap pegawai dapat memberikan kontribusi yang semaksimal mungkin untuk meningkatkan kinerja perusahaan, khususnya di Era Revolusi Industri 4.0 ini,” katanya.

Seperti diketahui, Jasa Raharja merupakan Badan Usaha Milik Negara yang diamanahkan untuk menyelenggarakan Perlindungan Dasar sesuai dengan UU Nomor 33 Tahun 1964 Tentang Dana Pertanggungan Wajib Kecelakaan Penumpang dan UU Nomor 34 Tahun 1964 Tentang Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan.

Tugas pokok Jasa Raharja adalah menyerahkan Santunan bagi Korban Kecelakaan alat angkutan umum Darat, Laut dan Udara dan korban kecelakaan lalu lintas jalan sebagai wujud kehadiran negara dalam memberikan perlindungan dasar.

Dewi Aryani Suzana menyampaikan bahwa dalam menjalankan kegiatan operasionalnya, saat ini Jasa Raharja didukung oleh kurang lebih 2.000 orang pegawai yang tersebar di seluruh Indonesia.

 

“Dari keseluruhan total jumlah pegawai tersebut ditempatkan di Kantor Pusat, 29 Kantor Cabang, 63 kantor perwakilan, 67 Kantor Pelayanan Jasa Raharja (KPJR), dan 1.560 Kantor Bersama SAMSAT,” jelasnya.

Menurut dia, beberapa tantangan yang pasti dihadapi oleh Jasa Raharja dalam pengelolaan Human Capital, antara lain :

Pertama, Gap yang besar antara jumlah pegawai millennials dan generasi sebelumnya. 75% dari total pegawai Jasa Raharja adalah Millennials.

Kedua, Kebiasaan millennials yang selalu terhubung pada teknologi, sehingga meminimalisir batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan.

Dan, ketiga, Memaksimalkan penggunaan teknologi dalam pengelolaan Human Capital.

Dalam menjawab tantangan tersebut, lanjut Dewi Aryani, Jasa Raharja telah menyusun Human Capital Transformation Framework untuk mengoptimalkan peran Human Capital dalam mendukung tercapainya tujuan perusahaan.

Adapun proses transformasi pengelolaan Human Capital yang saat ini telah dilakukan oleh Jasa Raharja, melalui:

Pertama, Melakukan penelitian Organization Culture Health Index (OCHI) untuk mengetahui kondisi budaya yang saat ini berkembang dalam kehidupan perusahaan dan memberikan gambaran aksi yang harus dilakukan untuk mengoptimalkan budaya sebagai “intangible asset”. Dari hasil penelitian tersebut, perlu adanya rejuvenate terhadap budaya 3T dan menciptakan budaya baru sehingga dapat mendukung perusahaan dalam beradaptasi terhadap era digital.

Kedua, Pembaharuan mekanisme rekruitmen untuk menemukan calon pegawai yang lebih inovatif dan dapat diandalkan untuk menjadi pemimpin Jasa Raharja di masa depan. Jasa Raharja juga memberikan kesempatan bagi lulusan D3 dan lulusan SMA untuk mengikuti program “Langkah Bakti” untuk memberikan pengalaman bekerja di Jasa Raharja. Untuk misi sosial, Jasa Raharja juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa dan lulusan SMA untuk mengikuti program magang bersertifikat yang merupakan Program Kementerian BUMN.

Selanjutnya, Penerapan Human Capital Information System (HCIS) dengan mengintegrasikan seluruh proses pengelolaan Human Capital berbasis digital.  Lalu, mempromosikan work life balance kepada seluruh pegawai melalui program “JR Energizer”, yang terdiri dari body energizer, soul energizer, social energizer dan main energizer. Dalam hal ini perusahaan menyediakan berbagai macam fasilitas olahraga, musik, social activity, kegiatan kerohanian dan training untuk mendukung terlaksananya work life balance. Work life balance tidak hanya bertujuan untuk menjaga kesehatan pegawai, namun juga diharapkan mampu meningkatkan produktifitas dan efisiensi kinerja pegawai.

Selain itu, Jasa Raharja juga membentuk organisasi Spirit of Millennials sebagai wadah untuk memaksimalkan peran millennials di Jasa Raharja sebagai agent of innovation. Melalui Spirit Of Millennials di Jasa Raharja, para pegawai millennials diberikan ruang untuk lebih berinovasi serta berkontribusi dalam berbagai kegiatan baik di dalam maupun di luar perusahaan. “Dengan adanya transformasi human capital ini, Jasa Raharja dapat menjadi perusahaan yang terpercaya dalam memberik memberikan perlindungan dasar terhadap risiko kecelakaan dengan pelayanan terbaik,” pungkasnya.