JAKARTA - Pengadilan praperadilan menolak untuk mengabulkan gugatan yang diajukan CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo. Hal itu disampaikan Hakim Cepi Iskandar dalam sidang putusan yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (17/7/2017).

"Mengadili, dalam pokok perkara menolak permohonan praperadilan dari Pemohon (Hary), " kata Hakim Cepi, di ruangan sidang Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin.

Dalam soal eksepsi, hakim juga menolak eksepsi pihak Hary Tanoe. Hakim menyebutkan, penetapan tersangka pada Hary Tanoe oleh Bareskrim sudah sah. " Membebankan biaya perkara pada negara (senilai) nihil, " tutur Cepi.

Hary Tanoe menuntut Bareskrim Polri atas penetapan tersangkanya pada masalah SMS pada Jaksa Yulianto. Dia adalah tersangka dalam kasus dugaan mengancam Kepala Subdirektorat Penyidik Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Yulianto lewat media elektronik.

Hary dikenakan Pasal 29 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 mengenai Informasi Transaksi Elektronik (ITE) tentang ancaman lewat media elektronik. Dia telah diperiksa sebagai tersangka oleh penyidik Bareskrim. Dalam masalah ini, Yulianto tika menerima pesan singkat dari Hary Tanoe pada 5, 7, serta 9 Januari 2016.

Berisi yakni, " Mas Yulianto, kita buktikan siapa yang salah serta siapa yang benar. Siapa yang profesional serta siapa yang preman. Anda harus ingat kekuasaan itu tidak akan langgeng. Saya masuk ke politik antara lain salah satu penyebabnya mau memberantas oknum-oknum penegak hukum yang semena-mena, yang transaksional yang suka abuse of power. Catat kata-kata saya di sini, saya pasti jadi pimpinan negeri ini. Di situlah saatnya Indonesia dibersihkan. "

Tetapi, Hary membantah mengancam Yulianto. "SMS ini saya buat sedemikian rupa untuk menegaskan saya ke politik untuk membuat Indonesia lebih baik, tidak ada maksud mengancam, " tutur Hary Tanoe.

Adapun Polri meyakini cukup bukti untuk mengambil keputusan tersangka Hary. Polri membantah ada muatan politis dalam kasus ini.

BREAKINGNEWS.CO.ID