BREAKINGNEWS.CO.ID - Pasca gempa bumi dengan kekuatan 7,4 SR di Kota Palu, Sulawesi Tengah pada Jum'at (28/9/2018) lalu, menyiskan luka mendalam bagi masyarakat setempat dan juga Indonesia. Tak hanya gempa, Palu dan daerah terdampak lainnya juga dihadang oleh gelombang tsunami.

Akibatnya, banyak korban jiwa berjatuhan. Ribuan jiwa dikabarkan meninggal dunia, mengalami luka-luka dan banyak masyarakat yang mengungsi ke tepat yang lebih aman. Tak hanya itu, sejumlah bangunan di daerah tersebut juga mengalami kerusakan seperti halnya rumah penduduk, gedung pemerintahan, sekolah hingga pusat perbelanjaan.

Informasi terbaru yang diterima breakingnews.co.id pada Kamis (4/10/2018), Google sebagai perusahaan yang bergerak dibidang perangkat lunak terbesar di dunia, merilis citra satelit terbaru di Palu pasca gempa dan tsunami yang mwlanda wilayah tersebut. Hal itu dapat diketahui melalui Google Crisis Response.

Dalam potret citra satelit yang di tampilkan itu, terlihat perbedaan lanskap Palu sebelum dan sesudah tsunami. Terdapat aliran lumpur besar yang menyebabkan kerusakan parah di daerah padat penduduk di wilayah itu.

Getaran yang intens dari gempa bumi mungkin telah memicu pencairan dan penyebaran lateral, proses di mana pasir basah dan lumpur mengambil karakteristik cairan. Proses-proses ini, yang sangat umum terjadi di dekat sungai dan di tanah reklamasi, dapat menghasilkan lumpur yang sifatnya merusak, bahkan di daerah yang relatif datar.

Para ilmuwan terkejut bahwa gempa bumi di Donggala bisa menyebabkan tsunami besar di Palu. Biasanya, tsunami besar terjadi setelah gempa bumi megathrust yang menyebabkan perpindahan vertikal. Tetapi gempa Sulawesi terjadi di sepanjang sesar yang datar, yang artinya perpindahan itu horisontal.

Selain itu, pergerakan tanah yang berada di dasar laut diduga terguncang akibat gempa sehingga memberikan energi yang memicu tsunami. Selain itu, bentuk Teluk Palu yang sempit dan menyerupai jari tampaknya memperbesar gelombang air laut yang bergerak cepat dan membuatnya lebih berbahaya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan hingga hari keenam pada Kamis (4/10) pukul 13:00 WIB, jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi yang disertai dengan tsunami di Sulawesi tengah (Sulteng) sudan mencapai 1.424 orang dan semuanya sudah dikuburkan di beberapa lokasi.

"Jumlah korban meninggal dunia mencapai 1.424 jiwa," kata Sutopo di kantornya, Jakarta. Sutopo merinci korban meninggal dunia di Donggala mencapai 144 jiwa, Kota Palu 1.203 jiwa, Sigi 64 jiwa, Pari Gemutong 12 serta Pasang Kayu (Sulawesi Barat) 1 orang. Adapun korban berjumlah 1.407 yang ditemukan Rabu (3/10) lalu, Sutopo memastikan seluruhnya sudah dimakamkan secara massal pada Senin (1/10) hingga Rabu (3/10) lalu.