BREAKINGNEWS.CO.ID  - Sepekan setelah pengumuman keputusan Mahkamah Konsitusi terhadap penolakan mereka atas gugatan Pasangan Calon 02 pada Pilpres lalu, munculah wacana rekonsiliasi antara paslon yang bersaing di Pilpres. Rencananya Juli ini kedua kubu akan bertemu di Jakarta guna mengakhiri perseteruan mereka. Namun tak hanya itu, pasalnya juga muncul isu masuknya sejumlah partai pendukung Prabowo Subianto atau Paslon 02 ke dalam koalisi pemerintahan.

Hal ini sudah semakin terang benderang dengan merapatnya kubu Partai Demokrat ke koalisi pemerintahan yang dipimpin Presiden Joko Widodo. Selanjutnya PAN (Partai Amanat Nasional) juga mengindikasikan hal sama. PAN yang dalam pemerintahan lalu sempat masuk koalisi namun keluar lagi saat Pilpres, tak hanya ingin mendapatkan jatah kursi menetri. Mereka juga dikabarkan ingin mendapatkan dan mempertahankan kurisi sebagai Ketua MPR.

Menanggapi sejumlah isu trsebut, beberapa Partai anggota koalisi yang selama ini mendukung Jokowi angkat bicara. Misalnya Partai Golkar, yang mnilai bergabungnya parpol pro-Prabowo ke Jokowi harus disertai kesamaan visi dan misi.

"Yang dikhawatirkan oleh kami sebetulnya bukan soal bagi-bagi kekuasaannya. Target dari pemerintahan Pak Jokowi untuk mencapai lima tahun ke depan dengan capaian yang telah disusun bersama-sama dengan koalisi, kemudian diisi oleh partai yang dari sejak awal memang memiliki perspektif yang berbeda. Nah, bagaimana kita bisa menyatukan perspektif, visi, misi, gagasan yang berbeda itu dalam sebuah pemerintahan," kata Ketua DPP Golkar Ace Hasan Syadzily di gedung DPR, Senayan, Jakarta

Ace juga berpendapat, bergabungnya partai ke koalisi pemerintahan bukan sekadar menjadi wadah mencari kekuasaan. Ia mengatakan penyatuan antara partai pro-Prabowo dan partai koalisi Jokowi memerlukan proses yang lumayan panjang. Jika bergabungnya partai-partai tersebut tanpa didasari kesamaan visi misi, Ace menyatakan khawatir mereka hanya akan jadi duri dalam daging.

"Ini soal bagaimana memastikan proses politik lima tahun ke depan Presiden Jokowi harus betul-betul memiliki legacy, karena apa yang sudah dijanjikan semasa kampanye itu betul-betul bisa terwujud," ucapnya. "Saya memiliki kekhawatiran kalau dari kubu Prabowo mau masuk tanpa memiliki kesamaan gagasan dengan apa yang sudah dijanjikan dalam kampanye kemarin, saya khawatir ini bisa menjadi seperti duri dalam daging," kata Ace.

Dalam kesempatan berbeda Jokowi sendiri enggan berspekulasi mengenai adanya parpol dari koalisi Prabowo yang merapat. Dia saat ini masih harus berbicara dengan Koalisi Indonesia Kerja (KIK), yang mengusungnya pada Pilpres 2019. Hanya saja Jokowi tetap membuka peluang agar setiap pihak untuk bersama-sama memajukan bangsa. Ajakan ini juga ia serukan kepada Prabowo saat berpidato seusai rapat pleno KPU.

"Tapi seperti yang sudah sering saya sampaikan, kita akan buka kepada siapa pun sama-sama memajukan negara ini, bersama-sama membangun negara ini," ujar Jokowi di gedung KPU, Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Minggu (30/6).