BREAKINGNEWS.CO.ID - Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon menyindir Pemerintahan Presiden Joko Widodo terkait nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang semakin terpuruk ke angka Rp14.400. Menurut Fadli, terpuruknya rupiah adalah kejahatan yang dibiarkan Pemerintahan Jokowi. "Mungkin ini bisa masuk kategori crime by mission, suatu kejahatan yang dibiarkan. Tak ada intervensi, tak ada usaha yang menyebutkan kita sebagai negara yang berdaulat mampu mengendalikan mata uang kita sendiri terhadap mata uang asing," ujarnya di Universitas Bung Karno, Jakarta, Jumat (29/6/2018).

Sembari mengenang Trisakti Bung Karno, Fadli mengatakan kondisi Indonesia sekarang ini jauh dari impian tersebut. Bung Karno menginginkan Indonesia yang berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, serta berkepribadian dalam budaya. Sekarang ini Indonesia, lanjut Fadli, menerapkan anti-trisakti lantaran tidak berdaulat di politik, ekonomi memburuk, serta tidak mempunyai kepribadian. "Kalau ada yang mengatakan kalau sekarang ini baik-baik saja, saya kira perlu kita periksa nalarnya," tandasnya.

Di lokasi yang sama, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Ferry Juliantono mengatakan Menteri Keuangan Sri Mulyani sengaja membiarkan rupiah menjadi anjlok ke angka Rp14.400. Hal tersebut, ucap Ferry, menunjukkan Sri Mulyani sengaja ingin mempercepat rezim Jokowi jatuh. "Pernyataan Menteri Keuangan menyatakan bahwa itu rupiah anjlok merupakan indikasi untuk ke penyesuaian yang baru," kata Ferry. "Saya kira Bu Sri Mulyani mempercepat Pak Jokowi jatuh kali ya," tambah Ferry.

Ferry mengatakan kondisi saat ini lebih parah daripada krisis moneter di 1998. Pasalnya ketika itu rupiah anjlok, tetapi usaha di akar rumput masih kuat. Sekarang ini rupiah anjlok disertai hancurnya usaha UMKM. Sehingga tinggal tunggu waktu soal krisis moneter. Karenanya, Ferry menyebutkan sekarang ini adalah waktu yang tepat untuk menyudahi rezim pemerintahan Joko Widodo. "Memang sudah tidak cocok juga menurut saya. Jadi lebih banyak pencitraannya, menyembunyikan kebenarannya. Kemudian manipulasi fakta-fakta terus," tandas Ferry.

Sebelumnya, nilat tukar rupiah kian menurun serta menyentuh angka Rp14.387 per Dolar Amerika Serikat pada Kamis (28/6/2018) lalu.

Menkeu Sri Mulyani menyatakan hal ini wajar serta merupakan penyesuaian nilai tukar yang normal. "Jadi kami lihat dulu, selama ini (pergerakan nilai tukar) mencerminkan suatu fundamental dan kekuatan ekonomi yang tidak berubah atau bergerak jauh dari faktor positifnya, ya kami akan lihat ini sebagai adjusment yang normal," ucap Sri Mulyani, Kamis (28/6/2018).