BREAKINGNEWS.CO.ID - Presiden Cina, Xi Jinping, dituding gunakan teknologi mesin dan kecerdasan buatan untuk menekan rakyatnya. Tudingan tersebut dilontarkan oleh seorang miliarder filantropis, George Soros.

Pada saat jamuan makan malam dalam agenda tahunan World Economic Forum di Davos, Swiss, pada Kamis (24/1/2019), Soros menuturkan bahwa Jinping merupakan lawan paling berbahaya bagi masyarakat modern yang terbuka. Dikutip dari The Guardian pada Jumat (25/1), Soros menyerukan dunia Barat untuk menindak perusahaan teknologi Cina, yang menurutnya, patuh sebagai alat kontrol otoriter pemerintahan Xi Jinping.

"Saya ingin Anda semua paham perihal bahaya yang dihadapi masyarakat terbuka, ketika instrumen kontrol dengan dukungan teknologi dan kecerdasan buatan berada di tangan rezim yang represif. Saya akan fokus memantau Cina, di mana Xi Jinping menginginkan negara satu partai berkuasa," kata Soros. Di masa lalu, Soros sudah menggunakan pidato utama di Davos untuk menyerang Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, dan saat ini dia kembali mengkritik presiden AS karena penanganannya terhadap Cina.

Ada risiko, kata Soros, tentang perang dingin antara dua ekonomi terbesar di dunia yang berubah menjadi panas. Dia mengatakan bahwa di Cina semua informasi yang berkembang pesat akan dikonsolidasikan ke dalam basis data terpusat untuk menciptakan "sistem kredit sosial". “Berdasarkan data itu, orang akan dievaluasi dengan algoritma yang akan menentukan apakah mereka menimbulkan ancaman bagi negara. Orang-orang akan diperlakukan sesuai poin yang dimiliknya," ujar Soros.

Dikte Ekonomi Global

Menurut Soros, Cina bukan satu-satunya rezim otoriter di dunia, akan tetapi menjadi negara terkaya, terkuat dan paling maju dalam pembelajaran mesin dan kecerdasan buatan. Dia berpendapat bahwa Cina ingin mendikte aturan serta prosedur tentang ekonomi digital, dengan mendominasi platform dan teknologi baru di negara-negara berkembang.

"Pandangan saya saat ini adalah bahwa alih-alih mengobarkan perang dagang dengan seluruh dunia, AS harus fokus pada Cina. Jangan membiarkan (perusahaan teknologi Cina) ZTE dan Huawei bertindak ganda sebagai agen pemerintah Cina, mereka perlu ditindak," ujar Soros. "Jika perusahaan-perusahaan ini mendominasi pasar teknologi 5G, mereka akan menghadirkan risiko keamanan yang berbahaya bagi seluruh dunia," lanjutnya.

Soros mengatakan Trump mengambil pendekatan yang salah ke Cina, membuat konsesi ke Beijing dan menyatakan kemenangan sambil memperbarui serangannya terhadap sekutu AS. "Kabijakan Trump bertanggung jawab atas pelemahan tujuan AS dalam mengekang penyalahgunaan dan ekses Cina. Kenyataannya adalah bahwa kita berada dalam perang dingin yang lambat laun memanas," pungkasnya.