BREAKINGNEWS.CO.ID -  Kapolri Jenderal Pol Idham Aziz memutasi sejumlah personil Polri. Sebanyak 27 personel yang dimutasi dan tercantum dalam tiga surat telegram, salah satunya jabatan Kapolda Metro Jaya.

Irjen Pol Nana Sujana menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya menggantikan Irjen Pol Gatot Eddy Pramono yang dimutasi menjadi Wakil Kepala Polisi Republik Indonesia (Wakapolri). Gatot dan Nana adalah perwira tinggi (Pati) Polri angkatan 88 seangkatan dengan Kapolri Idham Azis.

Rotasi Perwira Tinggi (Pati) Polri dalam surat telegram Kapolri itu mengejutkan. Pasalnya, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Gatot Eddy Pramono langsung mendapat promosi sebagai Wakil Kepala Kepolisian RI (Waka Polri) menggantikan Komjen Pol Ari Dono Sukmanto yang dimutasi sebagai Pati Mabes Polri dalam rangka  pensiun. Ini kebiasaan yang langka dan tak umum terjadi. Biasanya pati yang menduduki posisi Wakapolri diisi oleh Pati berpangkat bintang tiga.

Idham Azis memberi kepercayaan kepada Gatot yang masih jenderal bintang dua sebagai orang kedua di institusi korps Bhayangkara yang dipimpinnya itu “mematahkan” harapan para Pati jenderal bintang tiga aktif yang ada dijajaran Polri.

Pengangkatan Gatot sebagai Wakapolri tertuang dalam Surat Telegram 3330/XII/KEP./2019 tanggal 20 Desember 2019, yang ditandatangani Kapolri.

Karopenmas Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Argo Yuwono membenarkan promosi Irjen Pol Gatot Eddy Pramono menjabat Wakapolri menggantikan Komjen Pol Ari Dono.

“Ya benar, Pak Gatot menggantikan Pak Ari Dono yang dalam rangka pensiun,” kata Argo dikonfirmasi wartawan di Jakarta, Jumat (20/12/2019).

Untuk mengisi jabatan yang ditinggalkan Gatot, Kapolri menunjuk Irjen Nana Sujana yang saat ini menjabat Kapolda Nusa Tenggara Barat (NTB). Nana Sujana adalah Akpol 88 seangkatan dengan Kapolri Idham Azis.

Pengangkatan Nana Sujana menjadi Kapolda Metro Jaya tertuang dalam ST 3331/XII/KEP./2019.


Sementara, Kapolda Banten Irjen Pol Tomsi Tohir ditunjuk sebagai Kapolda NTB yang ditinggalkan Nana Sudjana.

Posisi Kapolda Banten akan ditempati Irjen Pol Agung Sabar Santoso yang saat ini menjabat Asrena Kapolri.

Gatot pantas jadi Waka Polri

Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane mengapresiasi pengangkatan Gatot Eddy Pramono sebagai Waka Polri

“Kapolda Metro Jaya Gatot Eddy sangat pantas menjadi Waka Polri,” kata Neta dalam siaran persnya kepada Otonominews.co.id, Sabtu (22/12/2019) sore.

Neta menyebut tiga alasan Gatot pantas menjadi Wakapolri. Pertama, Gatot pernah dijagokan internal Polri menjadi Kapolri. Kedua, prestasi di pendidikan kepolisian cukup menonjol. “Ketika PTIK dan Sespim, Gatot selalu bersaing dengan Tito Karnavian (mantan Kapolri kini Menteri Dalam Negeri). Tito peringkat satu dan Gatot peringkat dua,”  beber Neta.

Ketiga kata Neta, saat proses Pilpres 2019 sebagai Kapolda Metro Jaya, Gatot “cukup berdarah darah” mengamankan ibukota yang bolak balik diterjang aksi demo dan diwarnai kerusuhan.

“Di era Gatot sebagai Kapolda, Calon Presiden 01 Joko Widodo berhasil menang 4 persen mengalahkan Calon Presiden 02 Prabowo Subianto. Padahal saat itu capres 02 sangat dominan dan mendominasi ibukota,” ucapnya.

Di sisi lain lanjut Neta, hubungan Kapolri Idham Azis dengan Gatot cukup dekat sejak lama. “Idham memimpin Satgas Merah Putih dan Gatot memimpin Satgas Nusantara. Bagi IPW , Tito, Idam dan Gatot adalah sahabat tiga serangkai. Mereka selalu terlihat bersama sama di saat senggang saat Tito menjadi Kapolri,”  ungkap Neta.

Apalagi sambung Neta, selama memimpin Polda Metro Jaya, Gatot berhasil menjaga keamanan ibukota kondusif.

Tantangan Berat

Pengganti Gatot adalah Nana Sujana. Saat Jokowi menjabat Wali Kota Solo, Nana menjabat Kapolresta Solo.

Tampilnya Nana sebagai Kapolda Metro Jaya menunjukkan Jokowi menonjolkan “Geng Solo” di Polri. “Setelah Kapolresta Solo naik super ekspres menjadi Waka Polda Jawa Tengah. Lalu, Sigit mantan Kapolresta Solo menjadi Kabareskrim Polri dan kini mantan Kapolresta Solo Nana Sujana menjadi Kapolda Metro Jaya,” terang Neta.

Neta mengatakan tantangan berat yang harus dihadapi Nana Sujana di Polda Metro Jaya adalah kemacetan lalulintas yang luar biasa di Jakarta dan sempat “memperangkap” Presiden Jokowi dalam kesemrawutan lalulintas.

“Soal lalulintas ini perlu menjadi prioritas Nana Sujana sebagai Kapolda Metro Jaya,” katanya.

Selain itu  kasus narkoba yang terus melonjak ancaman terorisme dan aksi demo, terutama dari kelompok radikal.

“Nana Sujana perlu aktif melakukan pendekatan kepada berbagai komunitas seperti yang dilakukan Gatot selama ini. Sedangkan kriminal lainnya di wilayah hukum Polda Metro Jaya masih tergolong wajar,” ucap Neta.