JAKARTA - Kematian wartawan Kemajuan Rakyat, M. Yusuf (45) di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Kotabaru, membuat kalangan pers terhenyak sekaligus prihatin. Ketua Forum Wartawan Polri periode 2014-2016, Gardi Gazarin mengapresiasi desakan berbagai forum jurnalis terhadap Dewan Pers, terkait kematian wartawan Kemajuan Rakyat, yang diduga tidak wajar.

“Apa pun motif kematian wartawan dalam sel penjara, merupakan insiden sewenang-wenang dan memilukan, itu harus diusut tuntas sampai ke akarnya," kata Ketua Forum Wartawan Polri periode 2014-2016, Gardi Gazarin kepada breakingnews.co.id, Kamis siang (14/6/2018).

Gardi mengapresiasi kepedulian dan solidaritas Forum Pers dan seluruh elemen dan insan pers yang konsistensi memperjuangkan kasus itu ke pihak berwenang lainnya seperti Komnas HAM, demi menegakan hak jurnalis berdasarkan kode etik serta kebebasan pers.  Gardi menilai sangatlah wajar bila keluarga besar pers peduli penegakan hukum kompak menuntut pengungkapan secara nyata, tidak hanya teriak-teriak. Jangan salahkan forum pers protes meluapkan kekecewaan yang mendalam di berbagai medsos.

Pemberitaan Yusuf

Gardi yang juga wartawan senior Suara Pembaruan itu kemudian mencontohkan kematian wartawan harian Bernas, Udin, beberapa tahun lalu yang diduga tewas akibat penganiayaan gara-gara pemberitannya, sudah masuk ke dalam lembaran hitam pers Indonesia. Gardi meminta insan pers jangan takut atau segan, untuk melaporkan dan mendesak pengusutan kasus tersebut kepada Kepolisian setempat.

“Di satu sisi pasca kematian mencurigaikan M. Yusuf dalam sel tahanan kejaksaan sudah dalam penyelidikan polisi. Sebagaimana telah ditegaskan Wakapolri Komjen Pol Syafruddin bahwa tidak boleh ada penganiayaan terhadap wartawan, apalagi terkait pemberitaan,” tegas Gardi.

Mantan Ketua Forum Wartawan Polri ini optimistis, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian sudah menginstruksikan jajarannya untuk segera menyelidiki dengan target menyelesaikan secara terang benderang dan sesuai prosedur sejauh mana motif kematian wartawan tersebut dengan memeriksa saksi dan bukti cukup lainnya untuk kepentingan penyelidikan.

Atas kasus ini, Keluarga Muhammad Yusuf, bakal menggugat Polres Kotabaru dan Kejaksaan Negeri Kotabaru. Istri almarhum Yusuf, T. Arvaidah, menyerahkan teknis materi gugatan kepada tim pengacara yang sejak awal kasus bergulir sudah mendampingi almarhum suaminya.  “Ada kematian tidak wajar. Saya dilarang masuk ke ruang visum karena petugas medis beralasan saya tidak kuat melihat jenazah. Jadi saya menunggu di luar ruangan,” kata T. Arvaidah kepada media beberapa waktu lalu.