BREAKINGNEWS.CO.ID - Ganesport Institute, lembaga riset kebijakan olahraga, beranggapan bahwa induk sepakbola nasional PSSI tidak diawasi secara efektif selama bertahun-tahun, yang menyebabkan federasi ini sering mengalami krisis. Krisis dalam hal ini berkaitan dengan isu match-fixing (pengaturan pertandingan atau pengaturan skor) yang merebak baru-baru ini dan berindikasi melibatkan beberapa anggota Komite Eksekutif PSSI.

Dengan adanya masalah tersebut, ditambah dengan tekanan dari media dan publik, bisa dikatakan PSSI sedang mengalami krisis, apalagi ini merupakan krisis lanjutan dari kejadian meninggalnya Haringga Sirila. Dalam konteks tata kelola yang ideal (good governance), tidak ada satu pun entitas atau organisasi atau badan yang terlalu superior bekerja tanpa pengawasan, dan PSSI ditengarai bertahun-tahun beroperasi tanpa diawasi secara efektif. Hal tersebut merupakan titik krusial yang menjadi penyebab PSSI mudah mengalami krisis.

Hasil kajian Ganesport Institute mengungkapkan, dalam konteks tata kelola yang ideal atawa good governance, tidak ada satu entitas atau organisasi atau badan yang terlalu superior bekerja tanpa pengawasan. Artinya, selama ini PSSI beroperasi tanpa diawasi secara efektif.

Kondisi tersebut menjadi titik krusial yang menjadi penyebab PSSI mudah mengalami krisis. "Secara de jure PSSI memang milik anggota, tapi pada kenyataan di lapangan, sepakbola milik kita semua,” kata Amal Ganesha, pendiri Ganesport Institute.

Amal Ganesha menegaskan, mismatch antara ekspektasi PSSI dan publik yang menyebabkan federasi terus menerus krisis. "Dan sudah pasti akan terus krisis jika tidak dipertemukan,” tegasnya..Amal memberi contoh dari jersi Timnas Indonesia. Pada dada kiri menggunakan lambang negara Indonesia, bukan logo PSSI. Walhasil, interest publik terhadap PSSI akan terus tinggi.

“Jika sudah begitu, PSSI harus akuntabel terhadap publik, harus terbuka, karena jika tidak, organisasi ini akan rentan terhadap krisis,” sebut Amal Ganesha. Ganesport Institute mengidentifikasi, krisis yang sedang terjadi di tubuh PSSI bakal menyebabkan perlambatan pengambilan keputusan.

"Imbasnya, semua sistem tertunda, dan bisa jadi menghambat laju pembangunan sepak bola itu sendiri," ucap Amal, yang pernah bekerja di Manchester City sebagai bagian dari International Media Team.

Menurut Amal, PSSI harus segera membenahi diri dengan melibatkan seluruh stakeholder. Selain itu, PSSI wajib membuka diri, jangan terlalu resisten terhadap intervensi dari luar.