BREAKINGNEWS.CO.ID - Mochammad Iqbal Rahmattulah Iskandar, tubuhnya mungil dan usianya 23 tahun bukan berarti mentalnya kecil. Kaki kiri menjadi senjatanya untuk melumpuhkan lawan. Dua trofi Pro Futsal League (PFL) telah ia dapatkan yaitu pada 2016 bersama Black Steel Manokwari dan 2017 bersama Vamos Mataram. Dua musim berturut-turut pula ia menyandang status pemain terbaik PFL.

Berada di antara tiga pilihan, futsal, sepak bola dan pendidikan, pilihan Iqbal kepada futsal adalah keputusan yang tepat. Anak kedua dari empat bersaudara itu menemui takdirnya sebagai pemain futsal hebat. Sebagaimana anak Sekolah Menengah Atas (SMA), Iqbal yang dimabuk futsal pun sering tampil di turnamen-turnamen yang diikuti oleh sekolahnya SMA PLUS BBS Bogor.

Iqbal saat laga Indonesia vs Thailand di semifinal AFF Futsal 2018
(Foto: Dok. Robbi Yanto/breakingnews.co.id)

Keseriusannya bermain futsal membuat Iqbal masuk Akademi Futsal Nusantara. Di situlah, awal mula cerita hebat Iqbal. Seiring waktu berjalan, Iqbal direkrut oleh klub profesional Biangbola untuk PFL 2015. "Jadi, setiap shalat, saya berdoa bilang sama Allah lebih srek ke futsal. Nah, saya coba meyakini diri, dan menjalaninya sungguh-sungguh," kata Iqbal kepada Breakingnews.co.id.

Setahun kemudian, Iqbal bergabung dengan Blacksteel Manokwari. Disitulah nama Iqbal mulai dieluh-eluhkan. Bahkan, pucuk dicinta ulam tiba. Panggilan negara pun datang kepadanyan. Iqbal menjalani debut bersama Timnas Futsal Indonesia pada 2016 di CFiA International Futsal 2016 di Cina. "Alhamdulillah dapat peringkat kedua (medali perak)," ucap Iqbal.

Sebagai bukti kualitas Iqbal. dirinya tak tergantikan di Timnas Futsal Indonesia meski berganti tim kepelatihan. Dari Vic Hermans ke Kensuke Takahashi, Iqbal tetap mendapatkan kepercayaan mengenakkan lambang garuda di dadanya. Hanya saja, Iqbal pada AFF Futsal 2018 yang berlangsung 5 hingga 11 November 2018 ini belum berhasil membawa Indonesia meraih juara. Karena, Iqbal dan kawan-kawan kalah dari Thailand di babak semifinal.

Iqbal, Rio, dan Andri merupakan tiga pemain nasional yang pernah berlaga di Lima
(Foto: Dok. Robbi Yanto/breakingnews.co.id)

Iqbal menyadari, olahraga futsal semakin terkenal di Indonesia. Banyak pemuda sepertinya yang ingin mencari peruntungan di futsal. Iqbal juga menilai semakin banyaknya turnamen-turnamen futsal yang dapat menjadi wadah untuk pemuda menyalurkan bakatnya hingga mewujudkan mimpinya. Salah satunya yang kini banyak menghadirkan pemain-pemain futsal profesional adalah kompetisi antar perguruan tinggi se Indonesia Liga Mahasiswa (LIMA).

Lima pada perjalanannya sudah menciptakan sejumlah pemain sekaliber Timnas Indonesia. Di antaranya yaitu Muhammad Subhan Faidasa, Rio Pangestu, Andri Kustiawan, Rio Pangestu, Aditya Muhammad Rasyid. Iqbal mengatakan, Lima bisa menjadi batu loncatan bagi para mahasiswa menjadi pemain futsal profesional. "Saya memang baru satu pertandinan ikut di Lima, karena saat itu bentrok dengan TC Timnas. Namun, Lima adalah wadah buat menyongsong tahapan profesional. Mungkin Lima juga bisa menjadi alat untuk klub-klub profesional melirik pemain," kata Iqbal yang sempat bermain di Lima 2017 untuk kampusnya STKIP Pasundan.

Iqbal saat berduel dengan pemain Thailand (Foto: Dok. Robbi Yanto/breakingnews.co.id)

Hanya saja, lanjut Iqbal, mungkin Lima harus lebih merata lagi menyapa mahasiwa-mahasiswa di seluruh Indonesia. "Supaya bakat-bakat futsal di Indonesia khususnya kalangan mahasiswa bisa banyak terpantau,' ujar Iqbal.

Iqbal kini akan berjuang untuk Timnas Futsal Indonesia. Menjaga harga diri bangsa di negeri sendiri di AFF Futsal 2018. Timnas Futsal Indonesia akan memperebutkan peringkat ketiga melawan Vietnam. Pertandingan itu akan digelar di Gelanggang Olahraga (GOR) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Yogyakarta, Minggu (11/11).