BREAKINGNEWS.CO.ID-Nama Lalu Muhammad Zohri menjadi buah bibir dunia atas keberhasilannya memenangi persaingan nomor sprint 100 meter pada Kejuaraan Dunia Atletik U-20 di Tampere, Finlandia, Rabu (11/7/2018) lalu. Begitu namanya mengharumkan pelosok Negeri, sprinter asal Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), itu pun menuai atensi begitu tinggi. Pemerintah dan berbagai pihak ramai-ramai memberi apresiasi, dari bantuan merenovasi rumah, serta penghargaan berupa materi.

Sebuah prestasi memang wajar diganjar apresiasi, apa pun bentuknya. Pencapaian besar yang dilakukan Lalu Muhammad Zohri di Kejuaraan Dunia Atletik U-20 di Finlandia sangat fenomenal. Persaingan di atletik, ibu dari semua cabang olahraga, demikian ketatnya. Baik di senior, yunior atau kelompok usia. IAAF World U-20 Championship adalah batu loncatan terbaik menuju jenjang senior, sehingga tak mengherankan jika event itu menyita perhatian komunitas atletik global. Dengan demikian, pencapaian Lalu Muhammad Zohri memang sudah sangat luar biasa, dengan kata lain: sensasional!

Kendati demikian tentu layak pula menjadi pertanyaan, apakah hanya Lalu Muhammad Zohri yang pantas didegungkan, jika ada atlet yang karena prestasinya juga mampu membawa nama Indonesia mendunia? Tentu tidak. Ternyata, di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, ada nama sosok atlet yang terlebih dulu mengharumkan nama negeri ini.

Dia adalah Fauzan Noor. Anak muda kelahiran Banjarmasin, Kalsel, berusia 21 tahun ini sudah enam bulan lalu mengukir prestasi level internasional. Berbekal semangat untuk terus tumbuh menjadi atlet karateka internasional. Fauzan pun akhirnya meraih titel terbaik di Kejuaraan Dunia Karate Tradisional yang dihelat di Praha, Republik Ceko, pada Januari 2018 lalu. “Saya tak menyangka dengan kemenangan ini. Saya hanya ingin terus diberi kesempatan melatih diri,” ucap Fauzan didampingi sang pelatih, Mustafa di kediamannya di Komplek Lambung Mangkurat 3 Banjarmasin, saat ditemui media Senin (16/7) kemarin.

PINJAM UANG UNTUK KE KEJURAAN DUNIA

Di balik kesuksesan Fauzan, ternyata ada kisah pilu yang mengiringnya. Betapa tidak, untuk bertolak ke Praha, nan jauh di Eropa Barat itu, Fauzan bersama sang pelatih Mustafa harus bersusah payah mencari pinjaman uang karena ketiadaan biaya. Padahal, Fauzan telah menjadi pemenang dalam kejuaraan serupa tingkat nasional pada 2017 lalu. Sepatutnya, Fauzan berhak menjadi perwakilan resmi Indonesia di Praha.

Namun, rencana keberangkatan tak terlihat tanda-tandanya. Mustafa yang mantan wartawan ini sebelumnya juga telah menjuarai kejuaraan tersebut, kemudian bertekad untuk memberangkatkan Fauzan. Apapun dan bagaimanapun caranya. Ia lalu mencari sponsor dan pinjaman ke mana-mana.

Akhirnya tiket keberangkatan didapat. Ini ditambah sedikit uang saku. Demi menghemat uang saku, Mustafa dan Fauzan membawa bekal ikan asin, telur, dan mie instan. “Alhamdulillah, kami dapat bantuan dari salah satu sensei di Praha. Beliau yang membantu kami dari pengurusan visa hingga menyambut kami bersama kedutaan RI di Republik Ceko,” tutur Mustafa.

“Saya yakin ada campur tangan Allah dalam keberhasilan yang kami raih, karena jika dipikir logika rasanya mustahil kami bisa sampai ke Praha dan memenangi kejuaraan,” kata Mustafa lagi.

PERNAH COBA TES SATPOL

Fauzan adalah anak ketiga dari pasangan Adnan Firdaus (60 tahun) dan Jamariyah (56 tahun). Adnan Firdaus hanyalah seorang buruh bangunan dengan penghasilan tak menentu. Sedangkan, Jamariyah adalah ibu rumah tangga yang sekali-kali menjadi tukang pijat dan lulur.

Fauzan telah menjadi atlet karate sejak kelas 3 SD dan telah memenangi berbagai kejuaraan dari tingkat provinsi hingga nasional. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya piala dan medali yang telah Ia kumpulkan. Namun, semua itu tak selaras dengan kesejahteraan hidupnya. Kini, Fauzan hanya menjadi pekerja di sebuah toko retail di Kota Banjarmasin.

“Sebenarnya sudah pernah nyoba ikut tes polisi dan Satpol PP karena ada tawaran, namun ternyata tidak ada tindak lanjut hingga sekarang,” ucap Fauzan.

Prestasi-prestasi yang Ia ukir atas nama Provinsi Kalimantan Selatan hingga bangsa Indonesia ternyata tak mampu mengangkat derajat hidupnya. Fauzan dan kedua orangtuanya harus berpuas diri hidup dalam kesederhanaan. Rumah yang ditinggali puluhan tahun tampak tak pernah tersentuh renovasi. Di beberapa sudut terlihat kayunya mulai melapuk.

Namun, Fauzan adalah pemuda yang pantang menyerah. “Selagi hidup maka maksimalkan. Waktu tidur lama nanti juga akan tiba saat kita mati,” ucapnya. Ia menirukan nasihat sang pelatih yang terus menerus diberikan kepadanya.