BREAKINGNEWS.CO.ID – Nilai tukar rupiah ditutup melemah sebesar 22 poin di posisi Rp14.094  dari Rp14.072 per dolar AS pada akhir penutupan perdagangan Selasa (29/1/2019).  Kondisi yang diakibatkan penantian pelaku pasar terhadap keputusan the Fed  itu, juga dialami oleh bursa saham yang ikut melemah karena dipicu kekhawatiran perlambatan pertumbuhan ekonomi global.

Dini Nurhadi Yasyi, Analis pasar uang Monex Investindo Futures  menyebut, nilai tukar rupiah melemah karena pasar masih menunggu pengumuman kebijakan moneter The Fed.  

 "Memang penguatan rupiah bakal konsolidasi di area ini. Buat menguat jauh dari Rp14.000 memang agak berat ya buat jangka pendek ini. Pasar soalnya masih nunggu hasil rapat The Fed, sama data Non Farm Payroll atau NFP Amerika di akhir pekan," ujar Dini di Jakarta Selasa (29/1/2019).

 Meskipun sebenarnya ada kemungkinan The Fed tidak akan menaikkan suku bunga acuannya tahun ini, lanjut Dini, namun perlu diingat bahwa prospek perlambatan ekonomi global masih terus diantisipasi oleh pasar.    "Trump juga hari ini katanya mengancam bakal melakukan "shutdown" lagi. Kalau sudah begini, potensi pasar beralih ke aset "safe haven" dan mata uang "emerging market" suka jadi korban," kata Dini.

Selain itu, Rabu (30/1) besok juga ada pemungutan suara (voting) parlemen Inggris dan Perdana Menteri Inggris Theresa May akan memberikan rencana cadangan (plan B) terkait Brexit. "Ini kalau terjadi apa-apa lagi soal Brexit biasanya suka pengaruh ke kurs dolarnya. Pengaruh kurs dolar biasanya bakal jadi sentimen penggerak ke rupiahnya," ujar Dini.

Pengaruh Global

Sedangkan  dari lantai bursa, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI)  ditutup melemah dipicu kekhawatiran perlambatan pertumbuhan ekonomi global.

 IHSG BEI ditutup melemah sebesar 22,23 poin atau 0,34 persen menjadi 6.436,48. Sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun 3,62 poin atau 0,36 persen menjadi 1.015,52. "Sentimen hari ini yang memengaruhi pelemahan IHSG hari ini adalah kekhawatiran pelaku pasar global terkait dengan melambatnya kinerja pertumbuhan ekonomi global, terutama AS dan Tiongkok. Selain itu, minimnya sentimen positif dari domestik," kata analis Bina Artha Sekuritas M Nafan Aji Gusta.

Dibuka melemah, IHSG sendiri sempat kembali di zona hijau hingga jelang siang hari. Namun pada sesi kedua, IHSG terus berada di zona merah hingga penutupan bursa saham.

Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi beli saham investor asing yang  ditunjukkan dengan aksi jual bersih atau "net foreign buy" sebesar Rp607,01 miliar.