BREAKINGNEWS.CO.ID – Optimisme investor terhadap kekuatan ekonomi dalam negeri menjadi pendorong utama menguatnya  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (3/1/2018) ini.

Hal serupa juga terjadi untuk mata uang rupiah yang kembali menguat pada akhir perdagangan hari ini yang dipengaruhi juga antara lain oleh ditutupnya pemerintahan AS .

IHSG BEI ditutup menguat sebesar 39,83 poin atau 0,64 persen menjadi 6.221,01. Sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak naik 6,53 poin atau 0,66 persen menjadi 990,87.

Analis Bahana Sekuritas Muhammad Wafi di Jakarta, Kamis mengatakan IHSG menguat seiring masih kuatnya harapan investor terhadap perekonomian nasional. "Stabilitas ekonomi kita masih terjaga meski memang ada beberapa yang masih harus diperbaiki seperti defisit transaksi berjalan," ujarnya.

Ia menambahkan investor asing yang melakukan aksi beli saham turut menjadi penopang IHSG.

Berdasarkan data BEI, investor asing membukukan beli bersih (foreign net buy) sebesar Rp188,27 miliar pada Kamis.

Ia mengharapkan, stabilitas ekonomi dapat terjaga mengingat kondisi perekonmian global dibayangi kekhawatiran perlambatan akibat perang dagang Amerika Serikat dan Cina. "Perang dagang masih menjadi sentimen negatif eksternal," katanya.

Rupiah Menguat

Sedangkan dari nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis sore ini menguat sebesar 40 poin ke posisi Rp14.410 dibandingkan sebelumnya Rp14.450 per dolar AS.

Analis Valbury Asia Futures Lukman Leong di Jakarta, Kamis mengatakan penutupan Pemerintah Amerika Serikat menjadi salah satu faktor yang menopang mata uang rupiah. "Pasar menilai, penutupan pemerintah AS akan memperlambat ekonominya sehingga memicu pelepasan terhadap aset berdenominasi dolar AS dan beralih ke negara dengan prospek ekonomi positif, salah satunya Indonesia," ujarnya.

Menurut dia, ekonomi nasional relatif cukup kondusif, data inflasi yang terkendali memberi harapan pertumbuhan ekonmi nasional.

Di sisi lain, lanjut dia, perlambatan kenaikan suku bunga Federal Reserve pada 2019 juga menjadi faktor yang memicu dolar AS tertekan dan berdampak pada apresiasi rupiah.

Sementara itu, Direktur Strategi PT Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat mengatakan meski kondisi global tetap menantang, para pelaku pasar memprediksi kondisi ekonomi Indonesia pada 2019 akan membaik. "Kebijakan untuk mendorong daya beli dan meningkatkan produktivitas baik dalam sektor manufaktur maupun pariwisata dapat menjadi landasan bagi perekonomian nasional," katanya.