BREAKINGNEWS.CO.ID – Facebook telah menghapus sebanyak 14 juta konten yang terkait dengan terorisme pada platformnya sepanjang tahun 2018 ini. Facebook mengartikan konten terorisme sebagai post yang memuji, mendukung ISIS, al-Qaeda dan beberapa kelompok afiliasi mereka.

"Kami mengukur berapa banyak konten (seperti postingan, gambar, video atau komentar) yang kami tindak karena mereka bertentangan dengan standar kami untuk propaganda teroris, terutama yang berkaitan dengan ISIS, al-Qaeda dan afiliasi mereka," tulis Facebook dalam keterangan resminya, seperti dilansir dari CNBC pada Jumat (9/11/2018).

Lebih lanjut, Facebook mengatakan jika mereka telah menghapus 1,9 juta konten di kuartal pertama tahun 2018. Kemudian 9,4 juta konten teroris di kuartal kedua dan 3 juta konten teroris di kuartal ketiga tahun 2018 juga telah mereka hapus.

Banyaknya konten yang dihapus oleh Facebook ini merupakan postingan yang sduah lama dan dipost sebelum tahun 2018. Namun, Facebook juga menyatakan jika mereka telah menghapus 1,2 juta konten baru di kuartal pertama tahun 2018, 2,2 juta konten di kuartal kedua serta 2,3 juta konten di kuartal ketiga.

Facebook menjelaskan jika pihaknya fokus untuk menghapus konten terorisme sebelum dilihat oleh banyak penggunanaya. Untuk itu, Facebook berhasil menurunkan rata-rata waktu berapa lama konten terorisme tersebut berada di platform setelah dilaporkan para pengguna.

Pada kuartal pertama, rata-rata waktunya tidak lebih dari 43 jam. Namun turun menjadi 22 jam di kuartal kedua dan menjadi 18 jam di kuartal ketiga. Facebook sendiri mengandalkan machine learning untuk mengidentifikasi konten-konten  terorisme tersebut.

Biasanya konten terorisme ini kemudian ditinjau dan dihapus oleh operator manusia, tapi teknologi machine learning tersebut bisa juga menghapus konten jika penilainnya lebih akurat dibanding dengan penilaian manusia.

Tak hanya berhenti disitu saja, Facebook juga mengatakan jika mereka akan terus meningkatkan teknologi mereka untuk mendeteksi agar mencegah penyebaran konten terorisme pada platformnya.

"Teroris selalu mencuri cara untuk menghindari deteksi kami dan kami perlu melawan serangan tersebut dengan peningkatan teknologi, pelatihan, dan proses," pungkas Facebook.