BREAKINGNEWS.CO.ID-Video Assistant Referee (VAR) menjalani debutnya di fase knockout Liga Champions. Teknologi VAR coba diinteraksikan  pada empat pertandingan yang dilangsungkan pekan lalu, yakni antara Manchester United vs Paris Sint Germain di Old Trafford,  AS Roma vs Porto di Roma, Ajax Amsterdam vs Real Madrid di Amsterdam, dan Tottenham Hotspur vs Borussia Dortmund di Wembley, pada Rabu dan Kamis (13-14/2/2019) dini hari WIB lalu.

VAR juga akan digunakan difinal Liga Eropa UEFA, Piala Super UEFA, Final Liga Bangsa-Bangsa UEFA, dan Kejuaraan U-21 UEFA.

Dari pemanfataannya di fase gugur Liga Champions, tim  VAR bersiaga di empat stadion yang berbeda untuk leg pertama babak 16 besar Liga Champions ini.

Jika laga di Manchester, Roma dan Wembley aman, tidak demikian halnya dengan di Amsterdam. Pasalnya, penggunaan pertama VAR di laga Ajax versus Real Madrid langsung mendatangkan kontroversi.

Pada pertandingan tersebut, Ajax sempat unggul lebih dulu setelah mencetak gol pada menit ke-38 lewat sundulan Nicolas Tagliafico yang memanfaatkan bola yang lepas dari tangan Thibaut Courtois.

Namun wasit Damir Skomina kemudian menganulir gol tersebut setelah melihat VAR. Skomina menilai Dusan Tadic --yang berdiri di depan Courtois-- mengganggu permainan dari posisi offside meski tak menyentuh bola. Wasit kemudian memberikan tendangan bebas kepada Madrid.

Keputusan tersebut menimbulkan perdebatan. Tepatkah keputusan wasit menganulir gol Tagliafico?

"Saya sudah bilang berkali-kali bahwa saya adalah pembela VAR karena itu akan membuat sepakbola lebih adil sedikit demi sedikit," ucap kapten Real Madrid, Sergio Ramos.

"Kami tahu bagaimana menderita, membaca pertandingan, dan menciptakan ruang melawan mereka untuk memanfaatkan kecepatan kami. Kami dapat hasil bagus dan sekarang tergantung mereka untuk menderita di stadion kami," imbuhnya.

Pada akhirnya, Ajax kalah 1-2 dari Madrid. Mereka akan gantian tandang ke Santiago Bernabeu di pertandingan leg kedua pada 5 Maret.

Roberto Rosetti, ketua wasit UEFA, mengurai evaluasinya dari pemanfaatan VAR di empat laga leg pertama babak 16 besar Liga Champions pekan lalu itu. Dia menjelaskan adanya beberapa insiden penting pada minggu pertama VAR digunakan di Liga Champions ini. Namun, secara umum ia mengungkapkan kepuasannya akan penerapan VAR pekan silam tersebut.

Dari laga Ajax vs Real Madrid itu, kata Rosetti, teridentifikasi bahwa pemain Ajax memang dalam posisi offside dan mengganggu kiper Thibaut Courtois.
"Ketika kami berkomunikasi setelah pertandingan di platform media sosial UEFA, wasit mengidentifikasi bahwa pemain Ajax berada dalam posisi offside dan mengganggu kiper, mencegahnya bermain atau tidak bisa bermain bola, karena sundulannya adalah sedang dibuat. Ini sejalan dengan protokol VAR dan tujuannya dibatalkan dengan benar dan tendangan bebas tidak langsung diberikan karena offside," papar Rosetti.

Mengenai waktu yang dibutuhkan untuk peninjauan, Rosetti menambahkan: "Yang paling penting adalah bahwa wasit mengambil keputusan yang tepat. Akurasi lebih penting daripada kecepatan. Meskipun demikian kami ingin menjadi seefisien mungkin dan kami akan berusaha untuk meningkatkan ini bahkan lebih banyak di masa depan. Tetapi kita harus memperhitungkan bahwa ini adalah situasi yang sangat kompleks di mana VAR harus memeriksa dua kemungkinan situasi offside dan wasit juga harus mempertimbangkan gangguan pemain penyerang," jelas Rosetti.

Ada juga kejadian dari duel AS Roma vs Porto. Pada menit ke-19, seorang pemain Porto terindikasi memegang bola di dekat kotak penalti, tetapi wasit tidak menunjukkan pelanggaran.

Rosetti menjelaskan situasinya sebagai berikut: "Pemeriksaan selanjutnya oleh VAR menunjukkan bahwa insiden itu berada di luar area penalti, dan oleh karena itu VAR tidak melakukan intervensi dan bermain terus dengan benar. Ini sejalan dengan protokol VAB IFAB yang hanya memungkinkan VAR untuk melakukan intervensi dalam empat situasi yang mengubah pertandingan," tegas Rosetti.