BREAKINGNEWS.CO.ID-Tak bisa dipungkiri jika Asian Games ke-18 tahun 2018 terselenggara di Indonesia karena adanya political will dari pemerintah. Dalam hal ini tentunya tak dapat dipungkiri juga jasa besar dari --kala itu- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang memberikan persetujuannya untuk menerima penunjukkan Indonesia sebagai tuan rumah, menyusul pengunduran diri Vietnam.

Vietnam, yang mengungguli Indonesia dan Qatar pada bidding dari host Asian Games XVIII, menyampaikan pengunduran dirinya pada 17 April 2014 melalui Perdana Menteri Vietnam Nguyen Tan Dung, dengan alasan ketidaksiapan ekonomi. Dewan Olimpiade Asia (OCA) kemudian menerima kesediaan Indonesia untuk menggantikan Vietnam. Padahal kala itu Indonesia tengah bersiap menggelar Pilpres 2014.

Asian Games XVIII/2018 kini sudah tuntas diselenggarakan di Jakarta dan Palembang, 18 Agustus hingga 2 September lalu. Diikuti 45 negara dengan mengomentisikan 40 cabor --terdiri atas 32 cabor Olimpiade dan delapan cabor non olimpik- Asian Games XVIII/2018 sukses diselenggarakan dan disebut-sebut sebagai yang terbaik dari seluruh gelaran Pesta Olahraga Antar-negara Asia empat tahunan itu.

Dari penyelenggaraan beberapa kompetisi cabor di Jakarta, SBY diketahui menyempatkan diri untuk menyaksikannya secara langsung. SBY mengajak serta keluarga besarnya datang ke Istora Senayan, menyaksikan pertandingan cabor bulu tangkis. Putra sulungnya, Edhie Baskoro Yudhoyono atau yang biasa disapa Ibas bersama istrinya, Aliya Rajasa, dan anak mereka diketahui menyaksikan kompetisi renang di Aquatic GBK. Setiap kali hadir di venue, SBY dan keluarganya disambut meriah oleh penonton.

Setelah Asian Games XVIII/2018 ini tuntas, dengan Indonesia menempati peringkat ke-4 dari 45 negara peserta, Presiden RI ke-6 ini SBY memberikan apresiasi dua jempol bagi para atlet yang sukses menorehkan prestasi.

"Prestasi Indonesia dalam Asian Games 2018 ini harus kita syukuri dan acungi 2 jempol. Kita semua bangga," cuit SBY di Twitter-nya, Senin (3/9/2018) kemarin.

Lewat cuitannya, SBY juga menyampaikan selamat kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan Asian Games tersebut. Dia juga mengaku bangga dengan para atlet tanah air yang menorehkan prestasi membanggakan.

"Saya mengucapkan selamat dan terima kasih kepada Presiden Jokowi dan semua pihak yang telah bekerja keras, sehingga Asian Games 2018 ini sukses besar," ucap SBY.

"Saya juga mengucapkan selamat, terima kasih dan rasa bangga kepada para atlet, yang telah mengharumkan nama bangsa Indonesia," sambungnya.

Ketum Partai Demokrat itu juga mendukung ide Jokowi agar Indonesia menjadi tuan rumah Olimpiade 2032. "Ide Presiden Jokowi untuk mencalonkan Indonesia sebagai tuan rumah Olimpiade 2032 menurut saya baik dan perlu menjadi atensi kita semua," kata SBY.

RESPEK SBY, NYINYIRNYA ROY SURYO

Empati dan sikap simpatik SBY ini bagai bumi dan langit dengan salah satu pembantunya yang pernah menjabat Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), yakni KRMT Roy Suryo. Jauh berbeda dengan SBY, Roy Suryo yang juga Wakil Ketua Demokrat itu sejak awal konsisten melemparkan kritik terkait Asian Games.

Jauh-jauh hari Roy Suryo mengkritisi target yang berulangkali disampaikan Presiden Jokowi, yakni bagaimana kontingen Indonesia bisa masuk peringkat 10 besar dengan raihan medali antara 16-20 emas. "Target itu perlu, tetapi tetap harus realistis," demikian antara lain dikritisi Roy Suryo.

 

Atas pernyataannya yang dinilai nyinyir itu Roy Suryo di bully di media-sosial.

Namun, Roy Suryo tak bergeming. Ia lalu mengkritisi acara opening-ceremony pada 18 Agustus, khususnya saat Jokowi menggunakan pemeran pengganti (stuntman) untuk memeriahkan acara tersebut.

"Meski semalam saya tahu itu hanya bersifat 'entertainment' saja, namun sebaiknya etika dalam penayangan di televisi dilakukan, apalagi ini melibatkan sosok orang pertama (Presiden) di republik ini," begitu disampaikan Roy Suryo dalam akun Twitter-nya, Minggu (19/8) lampau.

Saat itu dia meminta masyarakat diberi penjelasan utuh terhadap pemeran pengganti tersebut. Sebab, dalam tayangan itu tidak tertulis bahwa beberapa adegan Jokowi menaiki moge dilakukan profesional atau stuntman.

Pernyataan Roy Suryo soal stuntman itu pun ditanggapi seru oleh berbagai kalangan, baik masyarakat biasa atau anggota dewan di Senayan.

Roy Suryo toh maju terus. Belakangan dia menyoroti kemunculan Presiden Jokowi lewat video closing ceremony Asian Games, Minggu (2/9) malam di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Senayan. Jokowi tidak hadir secara langsung karena sedang berada di Lombok, NTB.

"Tweeps, Benar khan Twit saya tadi, soal Vi-Con dari NTB?" tulis Roy Suryo lewat Twitter, Minggu malam itu.

Mantan Menpora era SBY itu sempat mengapresiasi Jokowi yang lebih memilih ke lombok daripada pamer di closing Asian Games. Namun, dia menyayangkan Jokowi tetap tampil.

"Tetapi saya menyayangkan kalau nanti Presiden @jokowi masih saja Show-Off dgn VideoConference (apalagi menyebut2 "di Lokasi Bencana")" tulis mantan Menpora ini Senin (3/9) siang.

Dia juga menyinggung soal perolehan medali emas Indonesia di Asian Games 2018. Roy Suryo berharap prestasi ini bukan sekadar karena Indonsia faktor tuan rumah.

Komentar Roy Suryo itupun mendapat protes dari kubu pendukung Jokowi. Salah satunya dari sekjen PKB Abdul Kadir Karding yang meminta Roy Suryo tidak nyinyir dan bangga terhadap prestasi para atlet.

Apalagi menurut Karding, Roy seharusnya bisa menempatkan diri sebagai mantan Menpora. Dia menilai akan lebih elegan andai yang disampaikan Roy ialah pujian kepada para atlet, panitia penyelenggara (Inasgoc), dan pemerintah Presiden Joko Widodo-Wapres Jusuf Kalla (JK).

"Jauh lebih elegan daripada memberikan komentar atau sikap yang oleh publik dianggap nyinyir karena apa pun beliau adalah mantan menteri. Harus diakui bahwa penyelenggaraan Asian Games kali ini semakin membuat Indonesia diperhitungkan di Asia, bahkan dunia," kata Karding kepada wartawan, Senin sore di Senayan.

BELUM KEMBALIKAN 3226 UNIT BARANG MILIK NEGARA

Roy Suryo menjadi Menpora selama sekitar 20 bulan, tepatnya sejak 15 Januari 2013 hingga 20 Oktober 2014. Dia menjadi menpora 'pengganti antar wakth/PAW)' dari Menpora Andi Alipian Mallarangeng yang mengundurkan diri karena kasus Hambalang.

Walau terbilang singkat menjadi orang nomor satu di Kemenpora, akan tetapi hingga saat ini Roy Suryo masih meninggalkan jejaknya. Kendati sudah sekitar empat tahun meninggalkan kantor kementerian yang terletak di pojokan kawasan Senayan itu, akan tetapi nama Roy Suryo masih ramai dibicarakan, meski terkait Barang Milik Negara (BMN) yang dianggap masih belum dikembalikannya. Disebut-sebut sebanyak 3226 unit BMN yang belum dikembalikan oleh Roy Suryo ke bekas kantornya itu.

Jumlah 3226 unit BMN yang belum dikembalikan oleh Roy Suryo ini merupakan hasil pemeriksaan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Kantor Kemenpora pertama kali menyurati Roy Suryo pada 17 Juni 2016 tentang Pengembalian Barang Milik Negara (BMN) Kementerian Pemuda dan Olahraga. Atas adanya surat itu Roy Suryo kemudian mereponnya pada 3 Agustus 2016. Namun, dalam pemeriksaan terkini selama tiga bulan, BPK masih memunculkan adanya BMN milik Kemenpora yang belum dikembalikan sebanyak 3226 unit.