BREAKINGNEWS.CO.ID - Dampak dari pemerintahan Perdana Menteri Irak, Adel Abdel Mahdi yang dianggap tidak berhasil menangani demonstrasi besar sepanjang bulan ini, empat anggota parlemen Irak mengundurkan diri sebagai bentuk protes.

Dua dari empat anggota parlemen Irak yang mundur adalah Raed Fahmy dan Haifa al-Amin. Keduanya merupakan segelintir politikus komunis yang berada di parlemen Irak. "Kami keluar dari parlemen untuk mendukung gerakan populer yang damai. Kami mengundurkan diri karena protes dan karena cara masyarakat ditekan," kata Fahmy dan Amin melalui pernyataan bersama pada Senin (28/10/2019).

Pernyataan yang dilansir AFP itu berlanjut, "Dalam 27 hari, parlemen tidak melakukan apa-apa, tidak dapat meminta pertanggungjawaban perdana menteri atau menteri dalam negeri." Dua anggota parlemen lainnya yang mundur ialah Taha al-Difai dan Muzahem al-Tamimi. Mereka masuk dalam daftar anggota parlemen era PM Haider al-Abadi, pendahulu Mahdi.

Tidak hanya protes, keempat politikus itu juga menuntut agar pemerintah berkuasa bersedia mundur dan menggelar pemilihan umum di bawah sistem baru. Aksi unjuk rasa besar-besaran merebak di seluruh Irak sejak 1 Oktober. Mereka menuntut langkah konkret pemerintah untuk menekan kemiskinan, penyediaan lapangan kerja, dan memberantas korupsi.

Hingga saat ini, lebih dari 197 orang dilaporkan tewas selama demo anti-pemerintah berlangsung di Irak. Sebanyak 157 di antaranya tewas dalam sepekan demo berlangsung. Jumlah itu dikehatui dari hasil penyelidikan resmi yang dirilis pada 22 Oktober lalu. Korban terbanyak ada di Baghdad dengan 111 orang tewas. Hasil penyelidikan menunjukkan hampir semua korban tewas adalah pengunjuk rasa. Temuan tersebut juga menunjukkan bahwa 70 persen korban tewas karena luka tembak di kepala dan dada.

Sementara itu, 40 orang lainnya dilaporkan tewas dalam sejumlah bentrokan antara pedemo dan aparat keamanan selama pekan lalu. Salah satu bentrokan terjadi pada Jumat di Alun-alun Tahrir, Baghdad, hingga menewaskan delapan demonstran. Lima demonstran dilaporkan tewas ditembak menggunakan peluru tajam di Kota Nasiriyah. Seorang pengunjuk rasa juga dikabarkan tewas karena luka bakar ketika massa membakar sejumlah kantor perwakilan beberapa partai politik di Irak.