BREAKINGNEWS.CO.ID – Komisi pemilihan umum (KPU) Zimbabwe pada Kamis (2/8/2018) mengungkapkan bahwa Presiden yang menggantikan Robert Mugabe, setelah melayani Mugabe selama beberapa dekade, Emmerson Mnangagwa, dinyatakan sebagai pemenang dalam pemilihan Presiden (Pilpres) Zimbabwe.

"Mnangagwa mendapat 51 persen dari suara," kata Priscilla Chigumba, ketua komisi pemilihan umum Zimbabwe. Para anggota partai oposisi yang mempertanyakan penghitungan digiring keluar dari ruangan sebelum hasil akhir diumumkan, di tengah kekhawatiran akan meletusnya kerusuhan dan klaim kecurangan dari lawan-lawan Mnangagwa.

Mnangagwa mengalahkan Nelson Chamisa, 40, pemimpin partai oposisi Gerakan bagi Perubahan Demokratik (Movement for Democratic Change/MDC). Chamisa disebut mendapatkan 44 persen suara. Lewat akun Twitter-nya Mnangagwa menyampaikan terima kasih kepada para pemilih. "Meskipun kita terbelah dalam pemilu, kita satu dalam mimpi kita," tulis Mnangagwa. "Ini adalah awal yang baru. Mari kita bergandengan tangan, dalam damai persatuan dan cinta, serta bersama kita membangun Zimbabwe bagi semua!"

Enam orang tewas dalam bentrokan antara demonstran partai oposisi dengan aparat keamanan di Ibu Kota Harare. Kerusuhan itu memicu pernyataan dari Amerika Serikat, Perserikatan Bangsa-bangsa dan Inggris. Pertumpahan darah mewarnai pemilu dan pilpres Zimbabwe, Senin (30/7), pemungutan suara pertama sejak Mugabe digulingkan.

Mnangagwa yang mengambil alih Partai Zanu-PF dari Mugabe tahun lalu dan dilantik sebagai Presiden menyerukan agar kekerasan tersebut diselidiki secara independen. Juru bicara Kepolisian Zimbabwe, Charity Charamba menyatakan 18 orang ditangkap dalam penggeledahan di kantor partai oposisi MDC. Total 26 orang ditangkap dengan tuduhan memicu kekerasan dalam aksi protes, Rabu (1/8).

Pengamat internasional menyerukan agar pemenang pilpres segera diumumkan. Hasil awal pemilu parlemen yang diumumkan Rabu memberikan partai berkuasa Zanu-PF dua pertiga dari kursi Majelis Nasional. Pengumuman itu memicu tuduhan kecurangan lantaran MDC mengklaim memenangkan suara populer. Saat polisi mengepung Markas MDC, Kamis (2/8), juru bicara partai bersikeras Chamisa menang pilpres.

"Kami telah mengumpulkan 80 persen suara, dan sangat jelas kami menang," kata juru bicara MDC Nkululeko Sibanda seperti dilansir CNN. "Dengan 20 persen, tak mungkin mereka akan menang. Itu bukan refleksi pemilihan yang dilakukan rakyat Zimbabwe pada tanggal 30." Chamisa sendiri mengumumkan kemenangannya lewat akun Twitter, Rabu, meskipun hasilnya belum dirilis KPU Zimbabwe.

Pada Kamis (2/8), Chamisa mempertanyakan klaim Mnangagwa bahwa pemerintah telah mencapai kesepakatan untuk meredakan ketegangan. Zimbabwe berusaha memastikan bahwa pemilu dan pilpres telah berlangsung secara bebas dan adil untuk menarik investasi asing guna memulihkan perekonomian yang terpuruk.

Mnangagwa, 75 tahun, mengambil alih kekuasaan dari Mugabe setelah membantu mengatur kudeta militer pada November. Dikenal sebagai 'buaya' karena kelicikan politiknya, dia masih dianggap sebagai orang Mugabe, karena bekerja sama erat dengan mantan pemimpin Zimbabwe selama lebih dari 40 tahun sejak perang kemerdekaan 1977. Chamisa, kandidat presiden termuda dalam sejarah Zimbabwe berusaha menarik para pemilih muda dengan janji reformasi pemilu, pemotongan pajak dan penyediaan lapangan kerja.