BREAKINGNEWS.CO.ID – Pada saat banyak usaha menjerit akibat pelemahan rupiah terhadap dolar, ternyata masih ada  bisnis dan usaha yang berdiri tegar tak terdampak situasi yang juga menekan pergerakan ekonomi. Jenis usaha atau emiten tersebut adalah bisnis yang bergerak di sektor konsumen.

Menurut  Analis PT Bahana Sekuritas, Deidy Wijaya  pelemahan yang terjadi secara gradual tersebut memang terkena dampak. Namu berdasarkan kajiannya, usaha jenis ini  memiliki waktu untuk melakukan penyesuaian harga secara perlahan. "Meski demikian, tidak dipungkiri ada beberapa perusahaan konsumer yang mengalami tekanan," katanya di Jakarta, Senin (10/9/2018).

Selain itu juga  ada tiga hal mendasar yang bisa dicermati dalam melihat fleksibilitas perusahaan dalam menyesuaikan harga barang yakni apakah barang tersebut adalah bahan kebutuhan utama, tingkat persaingan dan tersedianya barang penganti atau substitute goods di pasar, dan tingkat harga barang.

Deidy Wijaya memaparkan, PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT Hanjaya Mandala Sampoerna (HMSP), dan PT Mayora Indah adalah tiga perusahaan yang paling aman terhadap pelemahan rupiah.

Ia menjelaskan, GGRM dan HMSP memiliki bahan baku mayoritas dari dalam negeri. Sedangkan MYOR, meskipun sebagian besar bahan baku terpengaruh dengan depresiasi rupiah, namun perusahaan makanan itu juga memiliki penjualan ekspor.

"Beban biaya dalam dolar AS bisa di-offset dengan pendapatan dolar yang dihasilkan," katanya.

 

Sebaliknya, ada sejumlah usaha dan emiten BEJ yang mau tak mau sensitive dan rentan terhadap gejolak rupiah.  Antara lain,  PT Erajaya Swasembada (ERAA), PT Mitra Adiperkasa (MAPI), dan PT Ace Hardware (ACES).

Kerentanan terjadi lantaran perusahaan itu yakni karena porsi impor yang cukup besar serta tidak memiliki banyak ruang untuk memotong belanja operasional. "Kemampuan perusahan untuk menaikkan harga cukup terbatas, sehingga akan berpengaruh terhadap permintaan," katanya.