BREAKINGNEWS.CO.ID - Lembaga survey Charta Polititica Indonesia mengeluarkan rilis bahwa elektabilitas partai baru yang mengikuti Pemilu 2019 terus mengalami kenaikan. Salah satunya yakni Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Setidaknya, elektabilitas partai yang digawangi oleh Grace Natalie tersebut telah mencapai angka 1,5 persen. Namun, sebelumnya elektabilitas partai tersebut pada Oktober 2018 hanya 0,9 persen.

Peneliti 7 (Seven) Strategic Studies, Girindra Sandino dalam keterangannya mengatakan bahwa kenaikan elektabilitas partai baru tersebut berimbas pada turunnya elektabilitas partai lama alias 'nyungsep'.

"Menurut saya tidak saja kampanye PSI yang kontroversial, tapi pada sosok personal kader PSI yang terus berusaha keras membangun komunikasi dengan para pemilih, khushusnya kaum milenial," kata Girindra, Selasa (12/2/2019).

Lantas dirinya pun menyoroti salah satu kader yang juga Ketua DPP PSI, Tsamara Amany. Menurutnya, jika dilihat dari cara Tsamara berkomunikasi dan kampanye, selalu menggapai target-target pemilih yang pas.

"Sebagai contoh, di literarsi ilmu politik ada segmentasi pemlih situasional dimana kelompok pemilih ini dipengaruhi oleh faktor-faktor situasional tertentu dalam menentukkan pilihannya. Segmen ini digerakkan oleh perubahan dan menggeser pilihan politiknya jika terjadi kondisi-kondisi tertentu," ujarnya.

"Tsamara yang sering tampil berhasil menciptakan kondisi tersebut dengan pro-kontra yang ada. Kedua, PSI berhasil melakukan pendekatan rational choice, yang mengungkap bahwa ada variable lain yang menentukkan dalam mempengaruhi pilihan politik seseorang. Jadi, para pemilih bukan saja pasif tetapi juga aktif dan bukan hanya terbelenggu oleh karakteristik sosiologis dan psikologis, tetapi bebas bertindak," imbuhnya.

Dirinya berpendapat bahwa faktor-faktor situasional ini dapat berupa isu-isu politik atau kandidat yang dicalonkan. "Kita bisa menyaksikan bagaimana kader PSI, khususnya Grace dan Tsamara yang menghipnotis walau isu yang digadang kerap sensasional, isu perda syariah, kekerasan seksual, lantang  dan melawan dalam bersuara kritis terhadap isu-isu feminisme, isu-isu agama seperti di Jagakarsa, dapilnya," ungkap Girindra.

"Walaupun banyak anggapan ada bohir yang memback up-nya, tetap harus objektif terhadap PSI dengan metode kampamnyenya, isu yang di hadirkan di ruang publik, cara berkomunikasi dengan target pemilihnya, dan yang terakhir adalah personal kader PSI yang 'kece' tidak dapat dipungkiri menjadi daya tarik sendiri bagi pemilih," pungkasnya.