BREAKINGNEWS.CO.ID - Pengamat poltik dari Indopolling Network, Wempy Hadir menyebut jika pergeseran elektabilitas pasangan calon (paslon) di Pilpres 2019, hingga saat ini belum ada pergeseran yang berarti. Adapun hal itu disampaikannya, dalam menanggapi hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menyebutkan jika elektabilitas paslon pilpres tidak mengalami pergerakan yang signifikan alias stagnan. Ukuran yang diambil yakni selama dua bulan setelah masa kampanye ditetapkan.

"Posisi Jokowi-Ma'ruf Amin masih jauh mengungguli Prabowo-Sandi," kata Wempy kepada breakingnews.co.id saat dihubungi melalui pesan singkatnya, Jum'at (7/12/2018). Menurutnya, hal ini bisa saja dimaklumi oleh beberapa hal. Diantaranya, Jokowi sebagai petahana tentu memiliki kecendrungan untuk menjaga elektabilitas dan bahkan mencoba untuk meningkatkan melalui berbagai kampanye yang dilakukan oleh tim sukses.

Selain itu, Jokowi dan timsesnya juga mewartakan kepada masyarakat capaian apa saja yang diperoleh. Sehinga masih banyak masyarakat yang menaruh harapan bahwa Jokowi harus memimpin lagi pada periode 2019-2024. "Yang berikutnya adalah, masa kampanye terbuka belum dilakukan. Sekarang baru sebatas pertemuan terbatas. Dengan demikian belum ada dampak yang berarti bagi elektabilitas kedua capres," ujarnya.

"Ada kemungkinan bahwa pada Janurari 2019, kedua capres akan memulai kampanye yang rutin hingga bulan April 2019. Nah saat itulah kita akan melihat apakah ada pergeseran elektabilitas atau tidak," sambung Wempy yang juga Direktur di Indopolling Network itu.

Pergeseran elektabilitas tentu dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya adalah bagaimana rekam jejak calon presiden, hal apa yang sudah dilakukan yang membawa sosial, politik dan ekonomi bagi rakyat. Dan berikutnya adalah seperti apa tawaran program yang mau ditawarkan kepada rakyat.

Bagi petahana sendiri tentu tidak akan mengalami kesukitan. Sebab, petahana mempunyai intrumen yang kuat dan bukti terkait dengan rekam jejaknya. Sementara tugas yang paling berat adalah bagi penantang yang belum pernah memegang jabatan publik yang melewati proses yang demokratis. Oleh karena itu, kekuatan Prabowo-Sandi hanya satu yakni bagimana mereka meyakinkan rakyat terkait dengan program mereka. Program yang diusung pun bukan program yang mengawang-awang, tapi harus bisa dikonkritkan.

"Hanya dengan demikian, maka peta elektabilitas bisa berubah. Namun jika Prabowo tidak melakukan hal-hal yang kreatif dan menjadi pembeda dengan petahana, maka menurut saya elektabilitas capres tidak akan banyak berubah, Jokowi-Ma'ruf Amin tetap leading dibandingankan Prabowo-Sandi," pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, LSI Denny JA dalam rilis surveinya menyebutkan jika elektabilitas kedua pasangan capres dan cawapres yang maju di Pilpres 2019 tak bergerak signifikan. Pada survei yang dilakukan pada periode November 2018, tercatat jika pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin memiliki angka elektabilitas sebesar 53,2 persen. Sedangkan, untuk pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno hanya memperoleh angka elektabilitas sebesar 31,2 persen.

Sebanyak 15,6 persen, pemilih masih merahasiakan pilihannya atau tidak menajwab. "Artinya dalam dua bulan masa kampanye, Jokowi-Ma'ruf stabil unggul diatas angka 20 persen terhadap Prabowo-Sandi," kata peneliti LSI Denny JA, Rully Akbar dalam paparannya di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (6/12/2018).