BREAKINGNEWS.CO.ID -Seperti perkiraan sebelumnya, kinerja ekspor minyak sawit Indonesia pada semester pertama tahun ini  mengalami penurunan. Data menyebutkan, volume ekspor minyak sawit Indonesia, baik minyak sawit mentah, palm kernel oil, maupun turunannya termasuk oleochemical dan biodiesel tercatat  sebesar  15,30 juta ton. Total capaian tersebut menunjukkan adanya penurunan sebesar  2 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 15,62 juta ton.

"Semester I 2018, kinerja ekspor minyak sawit mentah dan turunannya asal Indonesia ke negara tujuan utama kurang menggembirakan, terutama di pasar India. Ekspor semester I ke India merosot signifikan sebesar 34% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yaitu dari 3,74 juta ton menjadi 2,50 juta ton," kata Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapkindo) Mukti Sardjono di Jakarta, Senin (30/7/3018).

Mukti menjelaskan, pasar India tergerus karena pemerintah setempat menerapkan bea masuk yang tinggi untuk komoditas minyak sawit. Alasanya untuk melindungi industri refinery di dalam negeri.

Selain India, penurunan ekspor terjadi di Uni Eropa. Semua berasal dari Isu deforestasi dan kebijakan phase out (penghapusan biofuel) berbasis pangan oleh Perlemen Eropa. Sebuah rencana dan kebikana yang  sedikit banyak mempengaruhi pasar minyak sawit Indonesia di Uni Eropa.

Pada semester pertama tahun ini, Uni Eropa membukukan penurunan volume impor CPO dan produk turunannya dari Indonesia sebesar 12% atau dari 2,71 juta ton turun menjadi 2,39 juta ton. Penurunan kinerja impor untuk periode yang sama juga dibukukan negara Afrika sebesar 10%.

Namun di sisi lain, beberapa negara tujuan ekspor Indonesia justru mampu mencatatkan kenaikan volume impor CPO dan produk turunannya dari Indonesia. Misalnya China yang naik sebesar 343,31 ribu ton (23%) atau dari 1,48 juta ton menjadi 1,82 juta ton. Kenaikan volume impor minyak sawit China karena adanya penurunan PPn untuk minyak nabati dari 11% menjadi 10% yang berlaku efektif 1 Mei 2018. "Lalu eskalasi perang dagang antara China dengan Amerika Serikat juga ikut mempengaruhi permintaan minyak sawit mentah dan turunannya,"tutupnya.