JAKARTA - Seorang mantan asisten rumah tangga asal Indonesia di Arab Saudi yang telah dibebaskan dari hukuman mati, mendapatkan kunjungan dari sepasang suami istri yang menjadi majikannya di Saudi. Ghalib Nashir Albalawi bersama istrinya berkunjung ke Masamah binti Raswa Sanusi di Cirebon pada 5-6 Mei 2018. Mantan tenaga kerja Indonesia itu sempat dinyatakan bersalah membunuh anak si majikan.

"Permaafan saya bagi Masamah adalah semata-mata mencari rida Allah. Kami sekeluarga juga meminta maaf atas kasus yang menjerat Masamah ini," kata Khalid di kedutaan besar Saudi di Jakarta, Senin (7/5/2018). Kasus bermula pada 2009 lalu ketika anak Ghalib yang baru berusia 11 bulan meninggal di tangan Masamah. Saat itu, eks TKI tersebut baru tujuh bulan bekerja.

Kasus Masamah pertama kali disidangkan pada Desember 2012 di Pengadilan Tabuk, barat laut Saudi. Vonis lima tahun penjara dijatuhkan pada 2014 lalu. Akan tetapi, keluarga menolak hukuman yang dianggap terlalu ringan dan menuntut pengadilan menjatuhkan hukuman mati. Majelis lantas mengabulkan tuntutan itu dan memvonis Masamah dengan qisas (hukuman mati).

Setelah berdialog beberapa kali, Kementerian Luar Negeri RI membujuk Ghalib serta keluarga untuk memaafkan Masamah agar hukuman qisas dicabut. Setelah menjalani sisa hukuman dan proses administrasi, Masamah pulang ke Indonesia pada akhir Maret 2018.

Kasubdit Kawasan II Direktorat Perlindungan WNI dan Badan Hukum Kementerian Luar Negeri RI, Arief Hidayat, menuturkan pemberian maaf keluarga Ghalib secara resmi disampaikan kepada kejaksaan sekitar awal tahun ini. Mulai sejak itu, paparnya, Konsul Jenderal RI di Jeddah berinisiatif mengajak Ghalib ke Indonesia untuk bertemu Masamah serta keluarga.

"Pak Ghalib dan istrinya menghabiskan waktu di Indonesia dari tanggal 3 Mei sampai 8 Mei. Beliau menemui Masamah dan keluarga selama sehari dan kami turut mendampingi mereka," kata Arief. Selama pertemuan, menurut Arief, Ghalib serta keluarga Masamah banyak bertukar cerita, termasuk alasan keluarganya mau memberi maaf dan mencabut hukuman qisas terhadap Masamah.

Dalam kesempatan itu, Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Osama bin Mohammed Abdullah Al Shuaibi, mengatakan kasus Masamah harus menjadi pembelajaran seluruh pihak untuk lebih peka dan menghormati hukum masing-masing. Osama mengatakan sikap Ghalib dan keluarga yang mau berlapang dada memberi maaf terhadap Masamah patut diapresiasi.

"Karena sesungguhnya Saudi hanya menjalankan syariat Allah. Saudi berterima kasih kepada masyarakat Indonesia yang telah mengerti soal hukum di Saudi. Bagi keluarga korban, sikap lapang dada mereka juga patut diapresiasi oleh seluruh pihak sehingga hukuman mati bisa dihindarkan," kata Osama.