BREAKINGNEWS.CO.ID – Kondisi makro ekonomi domestic yang stabil menjadi faktor utama menguatnya Indeks Harga Saham Gabungan  (IHSG) pada akhir perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) Senin (21/1/2019) ini.
Indeks ditutup  menguat sebesar 2,68 poin atau 0,04 persen menjadi 6.450,84. Sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun 1,63 poin atau 0,16 persen menjadi 1.029,06.

“Kekuatan dan stabilitas  fundamental makro ekonomi dalam negeri menjadi faktor utama penguatan IHSG pada hari ini,“ kata analis dari Binaartha Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta di Jakarta, Senin (21/1/2019).

“Selain itu penguatan harga komoditas dunia, ditengah menurunnya kinerja  GDP Cina turut menjadi faktor pendorong lain.”

Sebelumnya diketahui bahwa  ekonomi Cina pada kuartal IV-2018 tumbuh mencapai angka 6,4 persen, dan itu  lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya yang berada di angka 6,5 persen.

Menurut Nafan, selain rilis data-data ekonomi Cina, sejumlah sentimen global ikut menjadi sorotan para pelaku pasar. "Mereka lebih  menyoroti faktor Brexit 'uncertainty', resesi perekonomian AS, resesi perekonomian Jepang, serta turunnya tingkat GDP Cina," ujar Nafan.

Pada perdagangan hari inim  frekuensi perdagangan saham pada Senin tercatat sebanyak 464.279 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 12,2 miliar lembar saham senilai Rp8,3 triliun. Sebanyak 196 saham naik, 225 saham menurun, dan 140 saham tidak bergerak nilainya.

Rupiah Lesu

Sebaliknya, nilai tukar mata uang rupiah  melemah sebesar 49 poin ke posisi Rp14.227 dibandingkan sebelumnya Rp14.178 per dolar AS.

Masih menurut Muhammad Nafan Aji  Gusta, pelemaham dipicu oleh  pertumbuhan ekonomi China. “Kinerja GDP Cina yang menurun ikut menjadi factor yang melemahkan rupiah, Karena kondisi di negeri tirai bambu tersebut secara tak langsung membuat dolar ikut terapresiasi terhadap Yuan,”

Tingkat pertumbuhan Cina yang tercatat 6,4 persen pada triwulan terakhir tahun lalu itu adalah ekspansi terlemah sejak krisis keuangan dan menambah kekhawatiran perlambatan pertumbuhan global yang lebih tajam.

Para pembuat kebijakan Cina diperkirakan akan meningkatkan dukungan untuk ekonomi tahun ini guna mencegah pelambatan yang lebih tajam, tetapi para analis mengatakan kegiatan mungkin tidak stabil sampai musim panas, menambah tekanan pada China untuk mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat guna mengakhiri perang dagang mereka.