BREAKINGNEWS.CO.ID -  Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan bahwa kinerja ekonomi pada 2019 yang tumbuh 5,02 persen terpengaruh oleh perlambatan di berbagai sektor lapangan usaha. "Terjadi perlambatan tapi tidak curam," kata Suhariyanto di Jakarta, Rabu (5/2/2020).

Suhariyanto mengatakan perlambatan itu terlihat di berbagai lapangan usaha seperti industri pengolahan, sektor perdagangan dan pertanian, konstruksi, maupun pertambangan.

Industri pengolahan sepanjang 2019 hanya tumbuh 3,8 persen, perdagangan tumbuh 4,62 persen, pertanian tumbuh 3,64 persen, konstruksi tumbuh 5,76 persen dan pertambangan tumbuh 1,22 persen. "Sektor industri manufaktur, perdagangan, pertanian, konstruksi cenderung mengalami perlambatan. Hanya sektor jasa yang lebih baik dari 2018," ujarnya.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang menyumbang PDB terbesar juga mengalami perlemahan.

Suhariyanto memastikan konsumsi rumah tangga secara kumulatif pada 2019 hanya tumbuh 5,04 persen dan PMTB tercatat tumbuh 4,45 persen.

"Konsumsi rumah tangga terbantu oleh pertumbuhan positif pada kelompok kesehatan dan pendidikan, restoran dan hotel serta kelompok makanan minuman selain restoran," ujarnya.

Sektor perdagangan seperti ekspor dan impor juga mengalami kontraksi masing-masing sebesar 0,87 persen dan 7,69 persen selama 2019. Sedangkan, konsumsi pemerintah tercatat tumbuh 3,25 persen dan konsumsi Lembaga Non Profit Rumah Tangga (LNPRT) tumbuh 10,62 persen.

Secara keseluruhan, pencapaian kinerja ekonomi ini sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan ekonomi periode 2018 sebesar 5,17 persen dan pada 2017 sebesar 5,07 persen.

Realisasi ini juga dipengaruhi ekonomi pada triwulan IV-2019 yang hanya tumbuh 4,97 persen atau terendah dibandingkan triwulan lainnya sepanjang tahun.

Pada triwulan IV-2019, konsumsi rumah tangga tumbuh 4,97 persen karena perlambatan pada penjualan eceran makanan, minuman dan tembakau serta sepeda motor dan mobil penumpang.

PMTB yang sempat tercatat tumbuh 7,26 persen pada triwulan IV-2017, bahkan melambat hingga 4,06 persen pada triwulan IV-2019.

Kinerja investasi dalam periode ini salah satunya dipengaruhi oleh pertumbuhan barang modal jenis mesin yang terkontraksi karena penurunan produksi domestik dan impor.