BREAKINGNEWS.CO.ID-Bagi kalangan ahli ekonomi, pandangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno terkait ekonomi dinilai amburadul. Premis-premis yang dilontarkan pasangan capres-cawapres kubu 02 itu saat debat V Pilres yang berlangsung, Sabtu (13/4) di Hotel Sultan, Jakarta, terutama dalam menanggapi berbagai kebijakan pemerintahan Joko Widodo - Jusuf Kalla dalam 4,5 tahun terakhir, sungguh bingung untuk dimengerti.

Hal itu dinyatakan ekonom, Poltak Hotradeo saat dimintai pendapat tentang pemikiran dan pandangan kedua paslon capres-cawapres dalam debat V yang membahas masalah ekonomi dan kesejahteraan sosial, keuangan dan investasi, serta perdagangan dan industri. Pria yang aktif berkecimpung di Bursa Efek Indonesia itu menilai tak ada konsep strategi dalam pembangunan ekonomi yang diusung pasangan Prabiowo-Sandiaga.

"Ingin rasanya saya bicara langsung di depan mereka, dan bilang bahwa tidak ada ekonomi negara akan baik, jika tidak ditunjang infrastruktur yang bagus. Prabowo bilang di debat, agar kita meniru China yang bisa mengentaskan kemiskinan dalam 40 tahun. Cuma apakah Prabowo dan Sandiaga tahu bahwa untuk mengentaskan kemiskinan tersebut, China harus membangun 136 ribu km jalan tol! Apakah mereka tahu dan mengerti itu?" ungkap Poltak Hotradeo dengan nada gusar.

Ia menambahkan, bahkan kubu paslon 02 tersebut sering banyak mengkritik soal pembangunan infrastruktur berupa jalan tol di Pulau Jawa dan Sumatera, bahkan di Pulau Kalimantan, Sulawesi, dan Papua yang dinilai tidak penting ketimbang memberikan kesejahteraan rakyat atau swasembada beras.

"Cina membangun tol pertama tahun 1984 dan itu hanya 17 km. Tapi hingga kini sudah 136 ribu km, serta memberikan dampak luar biasa bagi negara itu. Indonesia pertama kali bangun tol Jagorawi tahun 1978, namun setelah itu diam. Hanya di era Jokowi-JK dalam 4,5 tahun bisa bertambah Tol Jawa dan Tol Sumatera. Jika itu terwujud, akan terlihat dampak ekonomi dan pengentasan kemiskinan yang terjadi," tambahnya.

Poltak menilai, Indonesia sebagai negara besar membutuhkan infrastruktur di tahap awal untuk membangun sektor-sektor lainnya. Jika jalan tol di Indonesia sudah ada lebih dari 5.000 km saja, maka diyakini dampak yang muncul akan juga luar biasa. Dengan pembangunan infrastruktur fisik, maka infrastruktur sosial, yakni di bidang pendidikan, kesehatan, dll, juga akan mengalami peningkatan.

"Karena negara besar, output ekonomi Indonesia itu besar. Saya pernah menghitung dan punya data statistik, bahwa output ekonomi Jabodetabek saja itu sama dengan Vietnam. Atau output ekonomi seluruh Jawa itu sama dengan Argentina. Ini menandakan, apa yang dilakukan Jokowi selama ini sudah benar arahnya. Dengan memperbaiki infrastruktur, maka sendi kehidupan lain akan ikut menggeliat dan memberi manfaat ekonomi bagi rakyatnya," kata Poltak.