JAKARTA - Dalam memperingati hari bumi, Calon Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi mengajak masyarakat untuk aktif terlibat dalam melindungi hutan secara menyeluruh. Terutama bagian hutan yang menjadi rumah bagi orang utan serta binatang lainnya.

Ia mengaku merasa terenyuh saat melihat warga Bahorok menyerap kearifan lokal untuk menjaga hutan. Tak hanya itu, ia juga mengaku telah lama memperhatikan cara warga dalam menjaga hutan saat dirinya masih bertugas militer. Tak hanya di kawasan KodamI.Bukit Barisan, tapi juga di daerah lain di Indonesia yang bersinggungan dengan areal kehutanan. "Masyarakat sekitar tidak pernah merusak hutan, mereka memanfaatkan hutan hanya untuk memenuhi kebutuhan semata. Tapi pemilik modal besar yang rakus, banyak memanipulasi hutan sehingga hutan kita rusak," beber Edy, Minggu (22/4/2018). "Ini masalah kita bersama. Akibatnya tidak hanya bagi hutan, tapi hewan dan tumbuhan yang ada di dalamnya hingga berdampak pada kehidupan manusia baik yang berada di sekitar hutan maupun secara keseluruhan," sambungnya.

Edy yang sempat mengunjungi kawasan Taman Nasional Gunung Leuser di Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, Sumut pada Senin (16/4/2018) itu mengaku ingin kebijakan pembangunan melihat interaksi masyarakat sekitar dengan hutan. Pasalnya, mereka telah hidup berdampingan dengan hutan dan isinya dalam kurun waktu yang cukup lama. Bencana banjir bandang dan kebakaran hutan menurutnya bukanlah akibat dari kerusakan yang ditimbulkan oleh warga sekitar. Apalagi karena hewan-hewan yang hidup di dalamnya. "Itu akibat kerakusan manusia terhadap hutan, manusia tidak lagi menghormati hutan. Kita harus melestarikan hutan bukan malah merampoknya," tegas Edy.

Ketika masyarakat biasa akan memanfaatkan hasil hutan, maka mereka terlebih dahulu mengadakan upacara dan doa untuk menghormati hutan. Karena wilayah Taman Nasional Gunung Leuser sebagiannya berada di wilayah Sumut, maka Edy mengaku sudah memasukkan program perlindungan hutan dan konservasi habitat hewan terutama yang dilindungi seperti orang utan, beruang madu, siamang, rangkong papan, harimau Sumatera, ajak (anjing hutan), hingga gajah Sumatera. "Di Tapanuli baru ditemukan spesies baru orang utan yaitu Pongo Tapanuliensis (orang utan Tapanuli), jadi pemerintah provinsi nantinya harus berkonsentrasi untuk itu (program rehabilitasi dan konservasi). Kerusakan hutan bukan hanya berakibat bagi anak cucu kita nanti, tapi kita yang hidup sekarang pun bisa terkena dampaknya," tutup Edy yang merupakan mantan Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) ini.