BREAKINGNEWS.CO.ID – Presiden Filipina, Rodrigo Duterte menegaskan bahwa dirinya tidak akan meminta maaf karena sudah menyebut Tuhan bodoh selama diskusi tentang Alkitab. Dia juga mengabaikan kelompok-kelompok agama yang memperingatkan murka penguasa akibat ucapan kasar tersebut. Duterte dikritik oleh kelompok Kristen yang menuduhnya sudah menghina Tuhan setelah pada minggu lalu berkomentar sinis tentang kisah Adam dan Hawa dan penciptaan Alkitab.

"Adam memakannya...lalu kebencian lahir. Siapa Tuhan bodoh ini? Anak laki-laki brengsek itu bodoh jika itu masalahnya. Anda menciptakan sesuatu yang sempurna dan kemudian Anda memikirkan suatu peristiwa yang akan menggoda dan menghancurkan kualitas pekerjaan Anda," kata presiden berusia 73 tahun itu di hadapan audiensi di Kota Davao pada 22 Juni 2018.

Eddie Villanueva, pendiri gerakan Jesus Is Lord (JIL), telah mengancam akan memobilisasi beberapa dari 10 juta anggotanya dalam kelompok untuk melakukan pawai doa jika permintaan maaf tidak disampaikan Duterte. Ucapan mantan Wali Kota Davao itu dianggap sebagai penistaan agama. Akan tetapi, dalam sebuah pidato di hadapan para wartawan di Panglao, Bohol, Duterte tetap dengan pendiriannya dengan menolak meminta maaf.

"Tidak, saya tidak akan melakukan itu, pasti. Tidak dalam sejuta tahun," katanya. "Tuhan itu pribadi. Tidak dibentuk oleh buku pelajaran. Anda mengasihi Tuhan sebagai keyakinan Anda berdasarkan nilai-nilai yang Anda dapatkan dari kehidupan sejak dini dari orang tua Anda," ujarnya.

Villanueva menyampaikan kepada media Filipina, ANC, Jumat (29/6/2018) malam, bahwa kata-kata presiden itu merupakan penistaan terhadap penguasa tertinggi. Kata-kata itu, kata Villanueva, akan mengundang “murka Allah” kecuali ada permintaan maaf yang dibuat. "Alkitab jelas, ketika Anda memfitnah Tuhan, Anda mengundang kutukan tidak hanya untuk diri sendiri tetapi untuk seluruh bangsa, seperti bencana," katanya.

Kata-kata kasar mantan Wali Kota Davao yang menyinggung agama bukan sekali ini dia lontarkan. Sebelumnya, pada bulan Juni Duterte menyebut imam Katolik munafik. Pada 2015, ketika masih menjadi Wali Kota Davao, dia mengecam kunjungan Paus Fransiskus ke Filipina yang menyebabkan kemacetan.