BREAKINGNEWS.CO.ID – Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, kembali melontarkan pernyataan kontroversial. Dia menyatakan kalau kritikus asing yang menyerang perang terhadap narkoba Filipina akan menjadi target hidup militer. Duterte menegaskan bahwa hanya warga Filipina yang memiliki hak untuk mempertanyakan kebijakannya.

Hal tersebut diutarakan Duterte kala dia berbicara kepada militer di kota pusat Capas. “Jika saya tidak berhasil, maka sebagai seorang Filipina, itu merupakan hak Anda untuk mengkritik dan bahkan menyalahkan saya apabila Anda mau. Saya tidak akan pernah, tidak pernah (menahan) Anda,” kata Duterte seperti dikutip Russia Today dari situs GMA, Sabtu (22/9/2018).

Akan tetapi para kritikus asing harus tetap menutup mulut mereka, dia memperingatkan, menjanjikan nasib suram bagi para penyelidik dan aktivis hak asasi manusia yang akan datang ke Filipina untuk menyelidiki tuduhan terhadapnya. "Suatu hari ketika Anda tidak memiliki target...target manusia hidup, saya hanya bisa membawa (kritikus asing) kepada Anda," kata Duterte kepada pasukan.

Ini bukan pertama kalinya Duterte menebar ancaman kepada pihak-pihak asing. Pada bulan Maret lalu, pemimpin Filipina berjanji akan menjadikan penyelidik internasional santapan buaya apabila mereka berani datang ke negara itu. Setelah mengambil alih kantor dua tahun lalu, Duterte meluncurkan perang besar-besaran terhadap narkoba. Human Rights Watch (HRW) mengklaim kalau lebih dari 12.000 orang telah dibunuh oleh polisi atau "orang bersenjata tidak dikenal" sejak saat itu.

Pemimpin Filipina membantah semua tuduhan, mengatakan bahwa penegak hukumnya hanya menggunakan kekuatan untuk membela diri. Pada bulan Februari, ICC memulai pemeriksaan awal klaim terhadap Duterte; dia menjawab dengan secara sepihak menarik Filipina dari pengadilan pada bulan Maret.

Dia berpendapat bahwa ICC menyerah pada prinsip "praduga tak bersalah" dan hanya ingin menggambarkannya sebagai pelanggar hak asasi manusia yang kejam dan tak kenal belas kasihan. Kemudian, ia melangkah lebih jauh, dengan mengatakan bahwa Filipina tidak pernah secara formal mengaksesi Statuta Roma, karena teksnya tidak dipublikasikan dalam lembaran resmi negara. Dia bersumpah untuk membujuk negara lain untuk mundur dari ICC. Duterte juga menginstruksikan polisi Filipina untuk mengabaikan penyidik jika mereka datang, dan mengancam jaksa ICC, Fatou Bensouda dengan penangkapan.