BREAKINGNEWS.CO.ID – Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, akan mengunjungi wilayah Benquet, lokasi terdampak tanah longsor akibat terjangan topan Mangkhut. Badai yang telah menghantam Filipina pada akhir pekan lalu, telah menewaskan sebanyak 59 orang.

"Tidak ada yang tahu berapa jumlah korban tewas di Benquet, kami akan datang besok," kata Staf Khusus Kepresidenan (SAP), Christopher Bong, sebagaimana dikutip Inquirer, Minggu (16/9/2018). Filipina sendiri baru mengawali penghitungan jumlah korban setelah Topan Mangkhut menghantam Pulau Luzon, Filipina, dengan angin berkekuatan lebih dari 200 kilometer per jam pada akhir pekan lalu.

Hingga Minggu (16/9), korban tewas dilaporkan berjumlah 59 orang, sementara itu, kepolisian akan memulai pencarian lanjutan pada Senin (17/9). Pihak berwenang menyatakan kalau mereka akan melanjutkan upaya pencarian sekitar 24 penambang yang dikhawatirkan tewas akibat tanah longsor di dekat kota Baguio, Filipina utara.

Di kota Baggao, topan juga menghancurkan banyak rumah serta tiang listrik. Beberapa jalan tidak dapat diakses karena tanah longsor serta banyak warga yang terjebak. Sebuah peternakan yang memproduksi beras serta jagung di Luzon Utara dibanjiri oleh lumpur sehingga hasil panen mereka hancur satu bulan sebelum waktunya panen. "Kami sudah miskin dan kemudian hal ini terjadi pada kami. Kami kehilangan harapan," kata Mary Anne Baril, 40, kepada AFP.

"Kami tidak ada cara lainnya untuk bertahan hidup," kata dia sambil menangis. Setelah menerpa Filipina, Topan Mangkhut berembus ke arah Cina, menghantam Hong Kong, kemudian Guangdong pada Minggu malam waktu setempat. Topan yang disebut sebagai badai paling besar tahun 2018 ini tersebut menyebabkan berbagai gedung pencakar langit di Hong Kong bergoyang dan menumbangkan pohon-pohon di tengah kota. Lebih dari 200 orang luka-luka.

Otoritas provinsi menyatakan kalau mereka mengevakuasi total 2,37 juta orang dan memerintahkan puluhan ribu kapal nelayan kembali ke pelabuhan sebelum kedatangan Mangkhut yang dijuluki "Raja Badai" oleh salah satu media Cina. Berdasarkan data dari pemerintah, otoritas cuaca Hong Kong mengelurkan peringatan maksimum di wilayah yang dilanda badai dengan kecepatan lebih dari 230 kilometer per jam dan membuat 213 orang terluka.