BREAKINGNEWS.CO.ID - Bendahara Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Golongan Karya (Bendum DPP Golkar) Robert Joppy Kardinal, membeberkan kegagalan yang terjadi di tubuh partainya dalam era kepemimpinan Ketua Umum Airlangga Hartanto.

Menurut Robert Kardinal, hal tersebut terlihat dari jumlah suara Partai Golkar pada pemilihan umum (Pemilu) 2019 lalu, yang mengalami penurunan dibandingkan Pemilu 2014. Hal itu, lanjutnya, berimplikasi pada penurunan jumlah anggaran partai politik yang akan diperoleh Golkar pada 2020 hingga 2024.

"Setelah 2017 ke sini, kita naik jadi Rp1.000 per suara. Sebelumnya, (Pemilu 2014) Golkar dapat 18,2 juta suara sehingga dapat Rp18,2 miliar. Oktober (2020) nanti sampai 2024 hanya dapat Rp17 miliar. Jadi turun, itu akumulasi dari turunnya suara Golkar, berarti ada kegagalan dalam Partai Golkar," kata Robert saat memberikan keterangan pers di Hotel Sultan, Jakarta pada Rabu (20/11/2019).

Berkaca pada itu semua, Robert menyatakan dukungan kepada Bambang Soesatyo atau Bamsoet untuk maju dan memenangkan kontestasi pemilihan Ketua Umum Golkar periode 2019-2024 pada Musyawarah Nasional (Munas) mendatang.

"Mendorong supaya Bamsoet sebagai kader Pemuda Pancasila harus maju untuk memenangkan pemilihan Ketua Umum Golkar di Munas yang akan datang," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Tim Sukses Bamsoet, Achmadi Noor Supit, mengatakan bahwa Airlangga telah mengabaikan komitmen untuk merangkul dan mengakomodir para pendukung Bamsoet dalam susunan alat kelengkapan dewan di DPR.

Menurutnya, hal tersebut telah membuat para pendukung Bamsoet semakin militan. Achmadi juga mengatakan bahwa Airlangga telah melakukan tindakan sewenang-wenang dengan melakukan pemecatan sejumlah tenaga ahli Fraksi Partai Golkar yang menjadi pendukung Bamsoet, serta pencoretan seluruh anggota Panitia Munas Golkar yang terindikasi bagian dari kelompok pendukung Bamsoet.

"Tindakan ini jelas-jelas malanggar gentleman agreement dan melanggar keputusan rapat pimpinan tentang mendahulukan musyawarah mufakat sebelum voting," tuturnya.

Achmadi menyatakan bahwa tindakan Airlangga ini akan memunculkan perlawanan. Pula berpotensi melahirkan munas tandingan seperti yang terjadi pada 2014 silam.

"Seperti Ancol versus Bali pada waktu lalu dan permasalahan hukum lainnya yang bakal timbul yang tak bisa dihindari. Golkar pecah lagi karena tindakan antidemokrasi dan intimidatif dari Airlangga dan orang-orang dekat sekelilingnya," ucapnya.

Bamsoet dan Airlangga semakin gencar saling menyindir jelang penyelenggaraan Munas yang dijadwalkan berlangsung pada Desember mendatang. Keduanya santer disebut tengah bersaing memperebutkan kursi Ketua Umum Golkar periode 2019-2024.

Rivalitas antara Bamsoet dan Airlangga makin memanas. Keduanya kerap melakukan manuver-manuver politik guna meraih simpati para pengurus Golkar di daerah-daerah.