JAKARTA - Pebalap Ducati Corse, Andrea Dovizioso mengungkapkan jika motor Desmosedici tak mengalami perubahan besar selama beberapa tahun terakhir, pebalap asal Italia itu menilai jika peranan pebalaplah yang menjadi faktor utama mengapa Ducati mampu bangkit dari keterpurukan di MotoGP tahun 2017 ini.

Untuk pertama kalinya sejak 2007, Ducati akhirnya memiliki peluang merebut gelar dunia bersama Dovizioso, yang sayangnya harus puas duduk di peringkat kedua di akhir musim. Dovizioso meraih 261 poin, unggul 124 poin dari rider Ducati terdekat lainnya, Jorge Lorenzo yang ada di peringkat ketujuh dan 137 poin dari Danilo Petrucci di peringkat kedelapan.

Menurut Dovizioso, jumlah poin ini adalah bukti bahwa dirinyalah yang menghadirkan perbedaan dalam kebangkitan Ducati musim ini. Ia juga yakin hal yang sama terjadi pada Honda, yang sukses meraih gelar dunia bersama Marc Marquez, sementara Pebalap lain kurang konsisten bertarung di papan atas.

Andrea Dovizioso

"Orang pikir Ducati mengalami kemajuan besar, tapi sejatinya tak begitu. Untuk paham kualitas pebalap, Anda harus lihat rivalnya. Jika ia punya 124 poin lebih banyak dari pebalap lain, Anda tak melihat potensi motor yang sesungguhnya. Ini berarti riderlah yang membuat perbedaan. Ini bahkan terjadi di Honda; Marc satu-satunya yang kuat," ujarnya lewat Motosprint.

Berkat performa gemilangnya musim ini, Dovizioso juga menjadi salah satu rider paling disorot, dan popularitasnya kian melesat usai meraih enam kemenangan, yang dua di antaranya ia raih berkat mengalahkan Marquez tepat di tikungan terakhir. Meski begitu, rider Italia ini tak mau ambil pusing dan memilih tetap bersikap merendah.

"Kita harus paham bahwa saya bukanlah Valentino Rossi, dan saya takkan pernah punya peran sepenting dirinya. Saya tak ingin hidup dalam situasi itu. Prioritas saya sangat berbeda. Saya merasa nyaman dengan orang-orang di sekitar saya dan saya akan mencoba meraih gelar dunia," pungkas DesmoDovi.