BREAKINGNEWS.CO.ID - Diperkirakan ada banyak keturunan dari simpatisan maupun anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) yang berhasil menjadi anggota DPR RI. Tak tanggung-tanggung, jumlah mereka mencapai ratusan orang.

Mantan anggota DPR RI, Djoko Edi Abdurrahman mengatakan bahwa paham komunisme di negeri ini cukup eksis. Pasalnya, dirinya mendapatkan informasi bahwa setidaknya ada 186 politisi Senayan yang merupakan keturunan dari PKI.

"Saya dengar isunya ada sekitar 186 anggota DPR itu (keturunan) PKI. Jumlah anggota DPR keturunan PKI," ungkapnya dalam sebuah diskusi yang mengusung tema 'Membedah Agenda Politik Komunisme dan Khilafah di Pilpres 2019' di kawasan Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (13/10/2018).

Kondisi tersebut menurutnya bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Pasalnya, menurut dia konstitusi negara ini tidak melarang keturunan PKI untuk terjun di dunia politik.

"Diundang-undang kita keturunan PKI itu boleh. Jumlah Anggota DPR kira-kira ada 560 orang. Jadi kira-kira sepertiga di DPR itu keturunan PKI," sebutnya.

Sementara itu, terkait dengan paham komunis dan khilafah sendiri, kata Djoko Edi, secara filosofi PKI itu tidak memiliki akar.

"Sekarang berkembang lagi. Jadi secara filosofi komunisme di Idonesia itu setengah-setengah. Jadi jangan bilang Pancasila dan UUD 1945 tidak ada komunismenya, ada," tegasnya. "Hari ini kita bedah komunisme dan khilafah, gerakan sosiologis itu tetap ada. Pertentangan Pancasila 1 juni dan 22 juli itu jelas gerakan PKI-nya. Bukan komunisme, itu PKI," imbuh Djoko Edi.

Seperti diberitakan sebelumnya, Komunisme dan khilafah adalah dua ideologi politik terlarang di Indonesia. Ideologi pertama dilarang melalui TAP MPRS XXV/1966 tentang Larangan PKI dan Paham Komunisme di Indonesia. Yang kedua dilarang Perppu 2/2017 tentang Ormas yang telah disahkan DPR menjadi UU. Kedua ideologi tersebut dinilai bertentangan dengan Pancasila.

Kendati telah dilarang UU, ideologi tentu tak lantas mati. Artinya, meski secara organisasional kedua ideologi tersebut sudah tak memiliki tempat bemaung lagi, namun ideologi itu akan tetap hidup melalui kader-kader, simpatisan dan para pengikutnya. Malah kemungkinan lebih militan dalam mempeljuangkan ideologi mereka karena menghadapi tantangan. Di satu sisi, mereka lebih sukar dideteksi karena sudah tidak memiliki organisasi lagi.