Jakarta - Andi Zulkarnain Mallarangeng dengan kata lain Choel Mallarangeng mengakui menyesal terima uang suap proyek Pusat Pendidikan Kursus serta Sekolah Berolahraga Nasional (P3SON) di Hambalang, Bogor. Tetapi Choel terperanjat dengan tuntutan 5 tahun penjara.

" Mulai sejak awal persidangan, saya meyakini serta yakin Jaksa Penuntut Umum KPK bakal melakukan kewenangannya berdasar pada kompetensi, pengalaman, kebijaksanaan, serta nurani mereka. Namun begitu saya terperanjat serta sedih pada saat Jaksa Penuntut Umum KPK menuntut 5 tahun pidana penjara pada saya, " kata Choel waktu membacakan nota pembelaan (pleidoi) di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jl Bungur Besar, Jakarta Pusat, Kamis (15/6/2017).

Choel juga bicara masalah permintaannya jadi juicetice collaborator serta kembalikan uang suap masalah itu pada KPK. Tetapi mengajukan juicetice collaborator tidak diterima jaksa.

" Bahkan juga kemauan baik saya yang tulus untuk jadi juicetice collaborator dengan mengaku perbuatan saya sebelumnya di tanya lalu kembalikan semua uang yang saya terima sebelumnya disuruh serta bahkan juga membuka pelaku paling utama dalam perkara ini yakni Wafid Muharram, seakan-akan tak ada fungsinya sekalipun, " kata Choel.

Choel memanggil jaksa salah bila menilainya Andi Mallarangeng waktu menjabat Menpora terima uang, jadi dianya akan terima uang masalah itu. Menurut dia, Sesmenpora waktu itu Wafid Muharam menyerahkan uang pada dianya karna cemas jabatannya bakal dicopot oleh Andi Mallarangeng.

" Pertanyaannya, apakah basic peradilan kita yaitu prejudice serta guilty by association? Karna saya adik Menteri jadi automatis apa pun yang saya kerjakan pastinya sepengetahuan Kakak saya atau demikian sebaliknya? Bagaimana mungkin saja saya mengakui tahu untuk suatu hal yang saya benar-benar tidak sempat tahu tentang latar belakang ataupun sistem penganggaran serta pelelangan jika beberapa saksi sendiri yang menyebutkan kalau penganggaran serta pemenang lelang telah ditetapkan bahkan juga sebelumnya kakak saya jadi menteri? " tutur dia.

Dia juga menilainya jaksa merangkai kenyataan persidangan tanpa ada alat bukti, memojokkan dianya dalam masalah itu. Dia mengharapkan KPK dapat menjunjung keadilan dalam masalah korupsi.

" Dengan pengalaman saya di persidangan ini, sesudah alami sendiri demikian mudahnya Jaksa Penuntut Umum KPK merangkai-rangkai narasi yang menyudutkan tanpa ada basic faktual yang pasti, dan demikian gampangnya mereka menarik interpretasi yang tidak berimbang, jadi saya lalu jadi ajukan pertanyaan sendiri. Mungkin saja telah tiba waktunya untuk kita untuk mengingatkan KPK supaya mawas diri dan selalu ada di koridor hukum yang menjunjung tinggi prinsip keadilan serta kebenaran, " tutur dia.

Walau sebenarnya, kata dia pelaku paling utama masalah itu yaitu Sesmenpora waktu itu Wafid Muharam. Sebab, Wafid jadi petinggi negara sudah menyatukan uang dari pihak manapun serta sudah melawan hukum.

" Satu fakta yang ironis dari KPK yaitu buat seorang swasta penerima seperti saya jadi Tersangka walau sebenarnya pelaku paling utama, Wafid Muharram sebagai petinggi negara yang lakukan perbuatan melawan hukum tindak pidana korupsi dengan menyatukan uang dari beragam pihak jadi berkeliaran bebas serta tidak jadikan tersangka? Pantas kita ajukan pertanyaan ada apa dengan KPK? Apa kabarnya keadilan di negeri terkasih ini?, " papar dia.

Choel Mallarangeng dituntut 5 tahun penjara serta denda Rp 500 juta subsider 6 bulan kurungan. Choel dipercaya dapat dibuktikan terima suap berkaitan proyek Pusat Pendidikan Kursus serta Sekolah Berolahraga Nasional (P3SON) di Hambalang, Bogor.