JAKARTA - Fungsi seksual, pada dasarnya dipengaruhi oleh faktor fisik dan faktor psikik. Berarti fungsi seksual berada dalam keadaan optimal bila faktor fisik dan psikik yang mempengaruhinya juga berada dalam keadaan optimal. Faktor fisik sangat ditentukan oleh kesehatan tubuh secara umum, dan kesehatan tubuh sangat berpengaruh terhadap kesehatan jiwa.

Kalau keadaan kesehatan tubuh terganggu, misalnya karena suatu penyakit, akibatnya dapat meluas sampai mengganggu fungsi seksual.
Beberapa faktor fisik yang mempengaruhi fungsi seksual secara langsung ialah fungsi hormon seks dan neurotransmitter, fungsi pembuluh darah, fungsi syaraf dan otot.

Bila fungsi kelima faktor tersebut baik, ditambah dengan faktor psikik yang menunjang, maka fungsi seksual juga baik. Sebaliknya gangguan pada salah satu fungsi tersebut dapat mengakibatkan gangguan fungsi seksual.

Sebagai contoh disfungsi ereksi, yang dulu disebut impotensi. Gangguan fungsi (disfungsi) seksual ini pada dasarnya dapat disebabkan oleh faktor psikik atau fisik. Penyakit atau kelainan fisik yeng mengganggu hormon, pembuluh darah, syaraf dan otot dapat mengakibatkan disfungsi ereksi.

Faktor psikik atau faktor kejiwaan yang dapat menyebabkan disfungsi ereksi meliputi semua faktor dalam semua periode kehidupan yaitu periode anak-anak, remaja, dan dewasa. Faktor psikik tersebut dapat dikelompokkan menjadi faktor predisposisi, faktor presipitasi, dan faktor pembinaan.

Faktor predisposisi, misalnya pengalaman seksual yang buruk dan pengetahuan seksual yang kurang. Faktor predisposisi, misalnya akibat usia tua, akibat menderita penyakit tertentu, kecemasan dan depresi. Sedang faktor pembinaan, antara lain hilangnya daya tarik pasangan dan hilangnya komunikasi seksual.

Bila seseorang mengalami tekanan darah tinggi, kencing manis dan radang lambung (yang umum disebut maag), maka mudah dimengerti bila kemudian bisa mengalami masalah seksual, khususnya disfungsi ereksi. Disfungsi ereksi yang dialami dapat timbul sebagai akibat tidak langsung maupun akibat langsung. Akibat tidak langsung timbul karena gejala yang muncul akibat penyakit itu.

Gejala ketiga penyakit yang dialami itu saja sudah cukup dapat mengakibatkan gangguan ereksi. Gejala yang muncul akibat ketiga penyakit itu, seperti sakit kepala, sakit di bagian lambung dan kelemahan tubuh akibat kencing manis, sudah dapat menimbulkan gangguan fungsi seksual.

Apalagi kelainan yang timbul sebagai akibat langsung. Penyakit kencing manis (diabetes mellitus), dapat mengakibatkan kerusakan dinding pembuluh darah (angiopathy) dan kerusakan syaraf (neuropathy). Akibatnya aliran darah ke dalam penis terhambat sehingga ereksi terganggu.

Tekanan darah tinggi juga menyebabkan aliran darah terhambat, termasuk aliran darah ke dalam penis sehingga ereksi terganggu. Di samping itu, obat yang digunakan mungkin juga dapat menimbulkan gangguan ereksi. Beberapa obat tekanan darah tinggi dikenal mempunyai efek samping menimbulkan disfungsi ereksi. Demikian juga obat tertentu yang berfungsi pada lambung, mempunyai efek samping mengganggu ereksi. Bahkan obat tertentu untuk diabetes pun diduga mempunyai efek samping yang justru mengganggu fungsi ereksi.

Di samping itu faktor usia tampaknya juga ikut memperburuk fungsi ereksi. Pada usia tua terjadi kemunduran pada banyak organ tubuh, termasuk organ kelamin. Karena itu dengan bertambahnya usia, penyebab gangguan fisik semakin berperanan dalam mengakibatkan disfungsi ereksi. Akibat kemunduran pada struktur penis, khususnya struktur pembuluh darah di dalamnya, maka aliran darah ke penis menjadi terganggu. Akibatnya ereksi juga terganggu.

Belum lagi kadar hormon testosteron yang menurun seiring dengan bertambahnya usia. Penurunan hormon ini dapat menimbulkan berbagai akibat, seperti dorongan seksual yang menurun, tubuh merasa lemah, dan menurunnya gairah hidup. Lebih jauh akibat tersebut tentu semakin memperburuk fungsi seksual Pak Wijaya yang memang telah terganggu karena penyakit yang dialaminya.

Untuk mengatasi masalah yang dialami, harus tetap berkonsultasi dengan dokter yang selama ini menangani penyakit tekanan darah tinggi dan kencing manisnya. Pada dasarnya, upaya mengatasi kedua penyakit itu terdiri dari pengaturan diet, olah raga yang sesuai, dan penggunaan obat.

Dokter yang memberikan obat untuk tekanan darah tinggi dan kencing manis diharapkan telah mempertimbangkan berbagai efek samping yang mungkin timbul, khususnya berupa disfungsi ereksi dan disfungsi seksual yang lain. Kalau obat yang digunakan ternyata menimbulkan efek samping berupa disfungsi ereksi atau disfungsi seksual yang lain, maka obat itu harus diganti dengan obat yang lain. Tetapi walaupun penyakit tersebut telah ditangani dan dapat dikontrol, belum tentu disfungsi ereksi langsung dapat diatasi juga. Karena itu diperlukan juga obat atau cara untuk mengatasi disfungsi ereksi yang terjadi.

Ada beberapa cara pengobatan untuk membantu terjadinya ereksi, mulai dari obat minum, suntikan langsung pada penis, obat yang dimasukkan melalui saluran kencing, sampai ke cara operasi. Obat mana yang sesuai, tentu sangat tergantung pada sejauh mana kerusakan yang terjadi akibat penyakit yang dialaminya.

Pemberian hormon androgen dapat dipertimbangkan bila kadarnya di dalam darah menurun. Tetapi tetap saja harus dipertimbangkan efek samping yang mungkin terjadi. Karena itu mereka yang mengalami penyakit tekanan darah tinggi dan kencing manis sebaiknya hanya menggunakan obat di bawah pengawasan dokter.

Menggunakan obat tanpa pengawasan dokter cukup berisiko mengingat tidak sedikit obat yang justru menimbulkan efek samping mengganggu fungsi seksual. Demikian juga upaya untuk mengatasi disfungsi seksual, justru tidak jarang semakin memperburuk fungsi seksual. Upaya tidak ilmiah karena terpengaruh iklan yang menjanjikan kesembuhan bagi disfungsi ereksi, acapkali merugikan, bahkan sangat berisiko.

Sebagai pegangan bagi mereka yang mengalami disfungsi ereksi, ingatlah bahwa disfungsi ereksi merupakan akibat dari berbagai gangguan fisik atau psikik. Jadi untuk mengatasinya, penyebab dasarnya harus diatasi juga. Maka jangan percaya kepada iklan obat, ramuan atau cara yang menjanjikan kesembuhan disfungsi ereksi tanpa mengetahui dan mengatasi penyebabnya. Apalagi yang menjanjikan kesembuhan hanya dengan sekali datang.