BREAKINGNEWS.CO.ID – Tersangka Kasus suap di Pengadilan Jakarta Pusat Eddy Sindoro diketahui bekelana di empat negara untuk menghidari diri dari pengejaran penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sejak 2016. Mantan petinggi Lippo Group itu diketahui berhasil melarikan diri dari Indonesia tanpa melalui imigrasi.

Terkait hal tersebut, Kepala Humas Dirjen Imigrasi Agung Supomo menjelaskan kala itu, Eddy Sindoro dideportasi dari Malaysia ke Indonesia melalui Bandara Soekarno-Hatta. Seharusnya Eddy melewati Imigrasi bandara dan dalam paspornya ada cap 'deportasi', tapi kenyataannya tidak seperti itu.

"Pak Eddy mendarat di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, ke luar pesawat menuju counter Imigrasi ada namanya transit desk. Bagi penumpang yang transit memang langsung menuju boarding gate berikutnya tak melalui Imigrasi," ujar Agung saat dimintai konfirmasi, Sabtu (13/10/2018). "Sedangkan Pak Eddy ini kan bukan transit passenger, dia dideportasi. Tapi dia memanfaatkan jalur transit desk itu untuk menuju gate berikutnya dan melewati Imigrasi," jelasnya.

Dalam rangka menyukseskan aksinya, Eddy tak sendirian. Agung menyebut Eddy dibantu sejumlah orang sehingga dia berhasil keluar dari Indonesia tanpa tercatat di Imigrasi. "Berawal dari dugaan KPK adanya petugas (Imigrasi) yang membantu proses tersebut, yakni proses masuk-keluar Indonesia tanpa melalui Imigrasi, tim internal kami langsung dibentuk untuk menelusuri apa yang terjadi," tutur Agung.

"Minggu lalu pas Kanim Bandara Soekarno-Hatta ke KPK, itu menyerahkan hasil temuan tim internal kami," imbuhnya. Dalam pelariannya selama dua tahun, Eddy sempat berpindah-pindah di empat negara Asia Tenggara, yaitu Thailand, Malaysia, Singapura, dan Myanmar. Eddy kemudian menyerahkan diri ke KPK dan menyebut ingin kasusnya segera diselesaikan.

Eddy Sindoro ditetapkan sebagai tersangka sejak 2016. Dia diduga telah memberikan hadiah atau janji kepada mantan panitera di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat Edy Nasution terkait dengan pengurusan perkara.