BREAKINGNEWS.CO.ID -  Ada empat target dalam program prioritas yang diusung oleh jajaran direksi baru PT Garuda Indonesia pimpinan Direktur Utama I Gusti Ngurah Ashkara Danadiputra. Saat berbicara kepada media bersama tujuh direktur lain usai dilantik,  Rabu (12/8/2018) Ngurah Askara menyampaikan sejumlah hal.  “Kami harus berikan Garuda yg terbaik. Kondisi saat ini lagi susah. Kondisi rupiah yang terdepresiasi dan harga minyak yg tidak stabil cenderung meningkat,” kata Dirut yang biasa disapa Ari Ashkara Ari itu di Auditorium Gedung Manajemen Garuda City Center, Tangerang.

Disebutkannya, bahwa Garuda dibawah pimpinannya, punya empat target utama. Pertama, mengurangi kerugian hingga di bawah US$100 juta pada akhir tahun 2018. “Sampai akhir tahun targetnya di bawah US$100 juta minimum. Kita harus kerja keras melibatkan pegawai, serikat pekerja, stakeholder, regulator dan ada diskusi dengan manajemen lama,” sebutnya.

Kedua adalah membenahi human capital. Menurut Ari, dalam suatu layanan jasa, penting untuk membuat pegawai merasa senang atau happy. “Fokus kami transformasi human capital. Karena dalam suatu jasa yang penting bagaimana membuat pegawai happy sehingga membuat pelayanan baik ke customer,” ucap Ari.

Salah satu caranya adalah dengan meningkatkan kesejahteraan pegawai Garuda Indonesia yang akan ditentukan setelah ada peninkatan perfoma perusahaan. “Meningkatkan kesejahteraan karyawan karena itu akan ditentukan setelah perusahaan meningkat performanya,” sebut Ari.

Setelah itu, mendongkrak pendapatan dengan cara membuat rute-rute penerbangan baru, baik domestik ataupun internasional. Salah satu yang dibidiknya adalah rute penerbangan ke Jepang untuk internasional dan 1 hingga 2 slot penerbangan domestik di Bandara Halim Perdanankusuma. “Di dalam enhance revenue kita lihat ada ceruk baru. Rencananya Jepang. Dan rute domestik yang sebelumnya dimiliki pesaing. Saya harap regulator untuk bisa mendapatkan 1-2 slot di Halim supaya bisa bersaing,” jelasnya.

Sementara target ke empat adalah  memperbaiki struktur biaya atau redefine cost structure.. Ari menilai cost structure Garuda Indonesia saat ini masih tidak kompetitif dibandingkan pesaing. Padahal Garuda Indonesia memiliki pelanggan yang dinilainya cukup tersegmentasi.

“Cost structure me-redefine pelanggan Garuda diberikan cost structure yang berbeda. Contoh ATR dengan standar sekarang harus diubah. Redefine cost structure yang memang seharusnya dibuat pelanggan yang tepat,” kata Ari.

“Pelanggan kita cukup tersegmentasi tapi produk kita hanya satu dan ini harus kita ubah dan perbaiki sehingaa cost structure bisa menekan rupiah dan minyak,” imbuhnya.

Selain itu Ari juga akan menutup biaya-biaya operasional Garuda Indonesia yang tidak efisien. “Bahasa zaman now ada kebocoran-kebocoran di operasional, itu yang kita fokus,” katanya.