BREAKINGNEWS.CO.ID-Hidup harus bergairah apabila ingin menorehkan sejarah. Demi semua itu perjuangan dan kesabaran adalah keniscayaan. Perlu perenungan mendalam untuk sampai memahami bahwa "Kesadaran adalah matahari. Kesabaran adalah bumi. Keberanian menjadi cakrawala. Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata."

Hariyanto Boejl mengutip serangkaian puisi dari almarhum budayawan WS Rendra karena ia mengaku sudah 'terikat' dengan kesaksian-kesaksian dari salah satu seniman besar tanah air itu, sebagaimana juga ia menyukai karya-karya puisi dari Sapardi Djoko Damono dan beberapa lainnya. Hal itu pula yang, antara lain, mendorongnya untuk keluar dari 'kotak pandora' bernyanyi di lingkungan yang lebih terbatas.

Keberaniannya untuk melangkah lebih jauh, keluar dari zona nyaman, tentu layak diapresiasi. Pilihannya untuk bermusikalisasi puisi, yang sudah lama jarang terdengar, tentu bukan tanpa pertimbangan matang. Bagaimanapun juga, Hariyanto Boejl-yang kesehariannya lebih disibukkan sebagai pewarta foto di sebuah harian besar- sudah membuat kejutan.

Sesungguhnya memang sudah cukup lama Heri, kerap disapa Boejl saja, mengagetkan rekan dan sahabatnya yang selama ini mengenal dirinya sebagai fotografer. Lebih memahami keberadaannya sebagai pewarta foto yang handal dan penulis dari buku tentang fotografi. Heri Boejl yang asal Lamongan, Jatim, secara resmi kini sudah memberanikan diri menghadirkan sosoknya sebagai penyanyi.

Setelah sekian lama hanya menjadi 'pendamping' dari banyak penyanyi lain, misalnya melalui 'jam-session' di kafe-kafe terutama di Dimsum Festival yang dimiliki mantan promotor musik kondang Sofyan Ali, pada Selasa (24/7/2018) Boejl mewujudkan dan sekaligus meneguhkan kehadirannya di dunia musik. Keberaniannya untuk melangkah lebih jauh di dunia musik ditandai dengan acara temu awak media untuk peluncuran mini albumnya dan Konser Kontemplasi di Cafe Amigos, Jakarta, tadi malam.

Sambutan hangat melalui tepuk tangan meriah diberikan oleh seratusan pengunjung, yang sebagian besar rekan-relannya sesama pewarta foto, kalangan media, dan musisi, kerabat dan -tentu saja-sponsor saat Boejl menceritakan tentang perjalanannya menuju dimensi lain dalam kehidupannya. Termasuk juga saat dia memulai dan setelah tampil di panggung untuk mendendangkan lagu-lagu dalam mini albumnya yang menjadi prolog kehadirannya di belantika musik nasional.

Sebagai manusia biasa, pria kelahiran Lamongan, Jawa Timur, 26 September 1972, itu pun berharap bisa memperbaiki diri sendiri dan mengajak orang lain untuk menebarkan virus kebaikan. Dalam Konser Kontemplasi, Boejl juga meluncurkan mini album yang terdiri atas tiga lagu, yaitu Kontemplasi, Introspeksi, dan Negeri Pelangi.

'Album' perdana Hari Boejl ini dudukung penuh oleh BNI dan Sinar Mas, yang direpresentasikan dari kehadiran Saleh Husin, mantan menteri perindustrian dalam Kabinet Kerja 2014-2016. Selly Adriatika, Head Communication External BNI, mengaku sudah mendengar mini album Boejl, mulai dari Kontemplasi, Introspeksi, dan Negeri Pelangi. Selly menilai, Boejl memiliki rasa tersendiri dalam menulis lirik lagu. Arti dari lirik lagu yang ditulis Boejl bisa disampaikan secara tersurat atau tersirat.

“Boejl bisa menyampaikan maknanya dengan cara yang ringkas, berbobot, mampu menarik pendengar untuk mendengar dan terus mendengar. Tidak berantakan secara emosional, tersusun secara rapi. Lirik lagu Boejl mampu menyentuh hati. Lirik-liriknya bagus. Selalu terus berkarya dan semangat,” kata Selly.