BREAKINGNEWS.CO.ID - Sejumlah massa yang tergabung dalam Korps Merah Putih (KMP) kembali mengepung Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Kuningan, Jakarta Selatan.

Pada kesempatan ini, massa KMP meminta agar lembaga antirasuah tersebut segera memecat Novel Baswedan sebagai penyidik KPK. Pasalnya, Novel diduga terkait dengan keterlibatannya berpolitik praktis.

"KPK jangan diam jangan sampai rakyat marah. Novel sudah berulang kali terkait dengan politik. KPK harus responsif, sekarang sudah banyak desakan rakyat bahwa Novel harus dipecat karena sudah berpolitik," kata Koordinator KMP, Mas Latu, Selasa (7/5/2019).

Lantas, KMP pun mempertanyakan alasan KPK yang sejauh ini terkesan mengistimewakan Novel. Sebab, tak pernah dilayangkan teguran apalagi sanksi tegas. Padahal sudah berulang kali bersinggungan dengan hal-hal yang berkaitan dengan politik.

Mulai dari disebut akan dicalonkan sebagai Kejagung jika Prabowo-Sandi menang di Pilpres 2019. Hingga foto bersama pendukung Prabowo-Sandi sembari mengacungkan pose dua jari.

Massa KMP pun kemudian melanjutkan aksi dengan menyerahkan seekor ayam betina ke KPK. Hal ini sebagai simbol meminta KPK agar bertindak berani bagaikan macan jangan seperti ayam.

"KPK ini terkesan lebih takut Novel ketimbang amarah rakyat. Siapakah Novel ini sehingga KPK sampai tidak berani memprosesnya," cetusnya.

Mas Latu menambahkan, saat ini marwah KPK sedang berada di ujung tanduk. KPK dipandang terseret dalam pusaran politik praktis. Bahkan dari semua tindak tanduk politik yang bersingungan dengan Novel, mulai membuat rakyat pesimis dengan kinerja KPK.

Bahkan ditakutkan, dalam proses pemberantasan korupsi, yang diketahui
tidak transparan kemudian tak bisa diawasi langsung dan ketat oleh publik. Dapat membuat rekayasa kasus, kriminalisasi, tebang pilih, dan membebaskan pihak-pihak tertentu yang diduga terlibat korupsi karena berafiliasi politik dengan KPK.

"Karena para komisioner dan pimpinan KPK terkesan tidak tegas dan kelihatannya berpihak membuat rakyat semakin bertanya tanya. Ada apa ini? Rakyat semakin pesimis dengan netralitas KPK dan kecurigaan berafiliasi dengan partai politik itu bisa saja benar adanya kalau tak ditindak lanjuti," pungkasnya.