BREAKINGNEWS.CO.ID - Twitter menyatakan telah menangguhkan akun beberapa media pemerintah Iran, dalam beberapa hari terakhir. Penangguhan layanan jejaring sosial itu terjadi sejak Sabtu (20/7/2019). Pihak Twitter menyebutkan jika alasan mereka melakukan supsensi akun itu setelah adanya pelecehan terhadap orang-orang yang terkait dengan kepercayaan Baha'I di Iran.

Penangguhan itu dilakukan pihak Twitter di tengah meningkatnya ketegangan di wilayah itu. Apalagi ketegangan itu juga diperparah oleh perebutan Iran atas kapal tanker berbendera Inggris. Beberapa media yang terkena dampak penangguhan akun itu sempat berspekulasi bahwa penangguhan Twitter itu terkait dengan liputan mereka tentang penyitaan kapal tanker itu.

Namun Twitter akhirnya mengungkapkan alasan mereka. Twitter menyatakan adanya pelecehan terkoordinasi dan ditargetkan terhadap orang-orang yang terkait dengan kepercayaan Baha'i. Mereka adalah golongan agama minoritas yang telah lama menghadapi penganiayaan di Iran.

Twitter tidak menyebutkan nama akun yang ditangguhkan, dan mengatakan pihaknya terus menyelidiki masalah ini. "Akun ditangguhkan. Twitter menangguhkan akun yang melanggar Aturan Twitter," baca pesan berbahasa Inggris di masing-masing akun media outlet Iran.

Kantor berita Mehr, yang dekat dengan kaum konservatif moderat di Iran, mengatakan akun berbahasa Farsi-nya tampaknya telah diblokir pada Jumat malam. Hal itu mereka tengarai terjadi setelah adanya laporannya mengenai penyitaan kapal tanker Stena Impero di Selat Hormuz yang strategis.

Pengawal Revolusi Iran mengatakan mereka menangkap kapal tanker milik Swedia karena melanggar "aturan maritim internasional" di selat itu. Posisi penangkapan dilakukan pada area yang menjadi titik temu untuk sekitar sepertiga dari minyak yang diangkut lewat laut di dunia.

Halaman Twitter berbahasa Farsi Mehr tidak dapat diakses pada hari Sabtu, bersama dengan orang-orang dari kantor berita IRNA resmi dan agen dari Young Journalists 'Club.

"Sejak tadi malam dan setelah penyitaan sebuah kapal tanker Inggris di Selat Hormuz, akun Klub Jurnalis Muda dan beberapa pengguna lainnya telah ditangguhkan," kata YJC di situsnya.

Mehr mencatat bahwa akun Diplomasi Mehr, yang menerbitkan analisis dan wawancara tentang kebijakan luar negeri, juga offline. Akun lain yang diambil milik Ali Akbar Raefipoor, seorang pembicara publik garis keras.

Tidak ada pemilik akun yang ditangguhkan mengatakan mereka telah diberi alasan untuk berganti akun oleh Twitter. Sebelumnya Platform micro-blogging  itu sudah dilarang di Iran. Akan  tetapi masih banyak pejabat di Iran masih memiliki akun. Bahkan netizen di Iran mengaksesnya dengan menggunakan jaringan pribadi virtual, atau VPN, untuk menghindari sensor pemerintah Iran.