Magelang - Kehadiran Pondok Sepuh di Payaman, Magelang, tidak terlepas dari sosok KH Anwari Siradj bin Abdurrosyid. Pria yang di kenal dengan panggilan Mbah Siradj ini adalah pendiri Masjid Agung Payaman pada tahun 1937.

" Waktu itu banyak kiai serta santri berlomba membangun pondok pesantren serta memberi pendidikan untuk orang-orang miskin jadi tanggapan serta perlawanan atas sikap penjajah waktu itu, " tutur satu diantara cicit Mbah Siradj, KH Muhammad Tibyan, waktu terlibat perbincangan di Masjid Agung Payaman, Kamis (8/6/2017).

Tibyan menceritakan almarhum Mbah Siradj adalah sosok kiai kharismatik yang begitu punya pengaruh pada saat hidupnya. Mbah Siradj yaitu rekan seperguruan KH Hasyim Asy'ari waktu menimba pengetahuan di Mekah. Dia juga bersahabat karib dengan KH Dalhar, kiai pakar thariqah dari Watucongol, Muntilan, Magelang.

Santri-santri yang telah lulus dari didikan Mbah Siradj, waktu itu jadi rebutan orang-orang. Pada akhirnya untuk berikan peluang santri muda menerapkan ilmunya, Mbah Sirajd mengambil keputusan untuk menyimpan santri-santri tua.

" Ya wis yen kabeh ngurusi santri enom-enom, saya tidak ngurusi santri karo sedulur sing tuwa-tuwa (Ya telah bila semuanya membangun pesantren untuk santri muda, saya bakal mengurus santri serta saudara yang tua-tua saja), " kata Tibyan menirukan pengucapan Mbah Siradj.

Masjid yang terdapat di Desa Payaman, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, saat ini memanglah jadi pusat aktivitas beribadah beberapa lanjut usia sepanjang bln. Ramadan. Oleh karena itu lokasi masjid itu dimaksud Pondok Sepuh.

Beberapa santri Pondok Sepuh umum datang mulai sejak hari pertama Ramadan atau bahkan juga 1-2 hari terlebih dulu. Mereka bakal bermalam di masjid atau kompleks Pondok Sepuh yang ada di bagian halaman depan masjid sepanjang 20 hari.